29 May 2009

Antibiotik Profilaksis Dalam Odontologi Pediatrik

Abstrak
Sebagian besar infeksi orofasial berasal dari odontogenik, dan bersifat self-limiting, yang memiliki karakteristik berupa drainase spontan. Bakteri penyebabnya biasanya adalah saprofit. Di sisi lain, intervensi gigi invasif meningkatkan bakterimia transien.
Jika lesi rongga mulut terkontaminasi oleh bakteri ekstrinsik, perawatan antibiotik harus diberikan sesegera mungkin. Dalam kasus pulpitis, perawatan semacam itu tidak diindikasikan jika infeksi hanya mencapai jaringan pulpa, atau pada jaringan di sekitarnya. Dalam kasus avulsi gigi, dianjurkan untuk mengaplikasikan antibiotik lokal, serta antibiotik sistemik.
Profesional dental harus mengetahui keparahan infeksi dan kondisi umum anak agar rujukan ke rumah sakit dapat dilakukan.
Semua pasien immunocompromised [rentan] membutuhkan profilaksis, serta individu yang menderita penyakit jantung akibat endokarditis, memakai kateter atau protesa vaskuler.
Penisilin V yang mengandung asam klavulanat dan diadministrasikan melalui jalur oral dikenal efektif melawan infeksi odontogenik. Dalam kasus alergi terhadap penisilin, dapat diberikan obat alternatif yaitu klindamisin. Sebagian besar infeksi akut akan sembuh dalam 2-3 hari.
Beberapa tahun terakhir, kita cenderung mengurangi penggunaan antibiotik umum untuk tujuan preventif atau terapeutik.
Kata kunci:antibiotik, antibioterapi, odontologi pediatrik, pasien pediatrik, infeksi, antibiotik profilaksis.
Sumber: Med Oral Patol Oral Cir Bucal 2006;11:E352-7.


PENDAHULUAN
Serangkaian karakteristik banding yang berhubungan dengan perawatan antibiotik pada anak-anak harus diketahui.
Riwayat medis anak-anak lebih sedikit, hal ini meningkatkan kemungkinan terjadinya alergi atau reaksi sampingan obat-obatan.
Jaringan anak-anak mengandung lebih banyak air, dan kerapuhan tulang mereka tinggi, hal ini mempercepat difusi infeksi. Di sisi lain, pasien semacam itu membutuhkan kesesuaian dosis obat-obatan yang tepat.
Sebagian besar anak memiliki oral higiene yang buruk, dan konsumsi makanan kaya-gula, berperan dalam peningkatan kuman dalam mulut—sehingga meningkatkan resiko bakterimia setelah perawatan rongga mulut.
Dalam praktek klinis pediatrik dan telinga, hidung dan tenggorokan, anak-anak kecil dapat terkena infeksi yang menyerang Waldeyer’s lymphatic ring. Perawatan antibiotik jangka panjang—yang terkadang tidak diperlukan atau akibat self-medication—merupakan salah satu faktor etiologi yang mendasari berbagai kondisi resistensi bakteri terhadap antibiotik yang diberikan pada anak-anak di Spanyol, hal ini sangat berbeda dengan situasi pada orang dewasa. Masalah tersebut harus dipertimbangkan sebelum memberikan antibiotik pada anak-anak. Jika merasa ragu-ragu, profesional dental harus berkonsultasi dengan dokter anak atau spesialis yang khusus menangani perawatan anak.

ETIOPATOGENESIS
Etiologi infeksi odontogenik pada anak-anak
Sebagian besar infeksi orofasial berasal dari odontogenik, dan bersifat self-limiting, yang memiliki karakteristik berupa drainase spontan. Perawatan didasarkan pada dua prinsip: eliminasi penyebab yang mendasarinya, serta drainase dan debridemen lokal. Jika infeksi lokal tidak dirawat, infeksi akan menyebar ke bagian atas dan bawah wajah.
Prosedur dental invasif akan meningkatkan resiko bakterimia transien. Hanya sejumlah spesies bakteri yang diimplikasikan dalam infeksi. Jika diindikasikan, antibiotik harus diadministrasi segera sebelum melakukan prosedur dental. Jika prosedur semacam itu dilakukan di sekitar jaringan yang terinfeksi, dibutuhkan dosis tambahan.
Beberapa penelitian telah mengevaluasi prevalensi dan perluasan bakterimia akibat berbagai macam prosedur dental pada anak-anak. Dalam kaitan ini, telah dibuktikan bahwa menyikat gigi menyebabkan bakterimia pada lebih dari sepertiga anak-anak, dan pemasangan/pelepasan wedge/splint dan braket atau band meningkatkan jumlah kasus bakterimia dalam kasus pediatrik secara bermakna.
Tingkat oral higiene sangat mempengaruhi tingkat bakterimia. Oleh karena itu, oral higiene yang optimal merupakan faktor paling penting untuk mencegah komplikasi yang mungkin timbul akibat bakterimia—meskipun menurut beberapa penulis, dibutuhkan lebih banyak perawatan antibiotik.
Pencabutan gigi sederhana dapat menyebabkan bakterimia pada 40-50% kasus. Tingkat bakterimia tertinggi disebabkan oleh injeksi intraligamen dalam prosedur yang dilakukan di bawah kondisi anestesi lokal [96,6% anak].
Trauma gigi merupakan salah satu faktor resiko infeksi rongga mulut, terutama jika terjadi pembukaan pulpa dan/atau perubahan ruang periodontal. Kecenderungan infeksi akan meningkat jika trauma pada jaringan keras gigi atau pendukungnya mengakibatkan luka membran mukosa atau kulit terbuka.

Mikrobiologi infeksi odontogenik
Bakteri penyebab infeksi odontogenik umumnya adalah saprofit. Mikrobiologinya bervariasi, dan melibatkan berbagai macam mikroorganisme yang memiliki karakteristik berbeda-beda. Biasanya, terdapat bakteri aerob dan anaerob. Dalam kasus semacam ini, berbagai spesies bakteri aerob menyebabkan infeksi odontogenik—yang paling sering adalah streptococci.
Dalam rangkaian proses karies gigi, bakteri yang berpenetrasi ke dalam tubulus dentinalis umumnya adalah anaerob fakultatif [yaitu, streptococci, staphylococci, dan lactobacilli]. Jika jaringan pulpa mengalami nekrosis, bakteri masuk melalui saluran pulpa, dan proses tersebut mengakibatkan inflamasi periapikal—yang didominasi oleh Prevotella, Porphyromonas, Fusobacterium, dan Peptostreptococci.
Sejak pertama kali karies gigi dinyatakan sebagai suatu fenomena infeksi, telah dilakukan berbagai macam usaha untuk mengeliminasi bakteri kariogenik dari rongga mulut. Telah diketahui bahwa sebelum gigi erupsi, lebih dari 50% bayi memiliki kolonisasi Streptococcus mutans. Setelah erupsi, kolonisasi organisme tersebut tergantung pada kontagion bakteri langsung—biasanya, dari ibu. Resiko meningkat jika oral higiene buruk, memiliki kebiasaan makan yang tidak sehat terutama makanan bergula, dan tampilan gigi setelah erupsi dalam mulut. Streptococcus mutans memanfaatkan kemampuannya untuk melekat pada permukaan yang keras. Lactobacilli memiliki potensi kariogenik lebih kecil dibandingkan streptococci, dan tidak melekat pada permukaan gigi.

Komplikasi infeksi
Komplikasi dapat terjadi akibat transmisi langsung ataupun hematogenous. Jika perawatan ditunda, infeksi akan menyebar ke jaringan di sekitarnya, menyebabkan selulitis, pembengkakan wajah dan demam dalam beberapa tingkatan. Terjadi inflamasi lokal, dan fistula gingiva akan terbentuk pada regio apikal—ini merupakan karakteristik khas pada gigi-geligi sulung [pembentukan abses]. Lengkung gigi rahang bawah dapat mengalami abses sublingual atau submandibula, sedangkan infeksi pada lengkung rahang atas dapat menyebar ke ruang temporal.

PERAWATAN
Pertimbangan penatalaksanaan infeksi odontogenik
Berikut ini adalah beberapa hal yang harus dipertimbangkan sebelum mengadministrasikan antibiotik pada anak-anak:
1.Keparahan infeksi, saat anak datang ke dokter gigi
2.Status pertahanan imun pasien
3.Dalam kasus infeksi akut, jika terjadi inflamasi sedang dan prosesnya terjadi dengan cepat, dan dalam kasus selulitis difus yang disertai dengan nyeri sedang sampai parah, atau jika anak mengalami demam, tanda-tanda yang ada mengindikasikan pemberian resep antibiotik serta perawatan gigi yang mengalami kerusakan.
4.Infeksi pada anak yang rentan secara medis [medically compromised]
5.Infeksi yang meluas ke ruang ekstraoral wajah. Dalam situasi semacam ini, infeksi cukup agresif dan dapat meluas sampai ke bibir—hal ini mengindikasikan bahwa pertahanan tubuh host tidak mampu mengendalikan infeksi. Untuk kasus yang parah, anak perlu dirawat inap di rumah sakit.
6.Antibiotik jarang diberikan alam perawatan traumatisme ringan, meskipun kasus tersebut melibatkan lesi jaringan lunak atau dentoalveolar, dibutuhkan antibiotik profilaksis untuk melawan infeksi. Anak yang mengalami avulsi gigi dan direncanakan akan dilakukan reimplantasi, perlu diberi antibiotik yang bagus. Sejak digunakannya antibiotik sistemik dalam kasus semacam ini, insiden reabsorbsi akar eksternal berkurang. Kalender vaksinasi [vaksinasi antitetanus] perlu dipertimbangkan jika trauma terjadi di lingkungan yang terkontaminasi.
7.Pemberian antibiotik perlu dipertimbangkan pada pasien yang menderita juvenile periodontitis lokal atau tipe early periodontitis lainnya.
8.Adanya abses lokal, kronis, atau minor. Anak-anak sehat yang perlu menjalani pencabutan gigi sulung yang mengalami abses, atau perawatan endodontik gigi permanen, dapat menjalani prosedur tersebut tanpa pemberian antibiotik. Sebaliknya, pada anak-anak yang immunocompromised, atau pasien yang menderita gangguan jantung, membutuhkan antibiotik meskipun infeksi tidak selalu terjadi.

Prosedur dental yang mengindikasikan antibiotik profilaksis [Tabel 1 dan 2]
*Penatalaksanaan lesi rongga mulut:
Jika rongga mulut terkontaminasi oleh bakteri ekstrinsik, antibiotik harus diadministrasikan sesegera mungkin agar diperoleh hasil yang optimal—dengan mempertimbangkan jalur administrasi yang paling efektif untuk setiap kasus [intravena, intramuskuler, dan oral]. Jika perawatan tersebut telah dimulai, khasiatnya harus diawasi, diindikasikan untuk melakukan uji kerentanan jika pasien tidak memberikan respon terhadap obat-obatan yang diberikan dalam perawatan pendahuluan.

*Penatalaksanaan pulpitis, periodontitis apikal, inflamasi intraoral terlokalisir:
Bakteri dapat mencapai pulpa melalui lesi karies, jaringan pulpa yang terbuka akibat trauma, atau mekanisme iatrogenik. Penetrasi dapat terjadi di sepanjang tubulus dentinalis, retakan dentin, atau restorasi gigi yang buruk. Jika seorang anak mengalami pulpitis akut, maka harus dilakukan perawatan gigi [pulpotomi, pulpektomi, atau ekstraksi]. Biasanya, perawatan antibiotik tidak diindikasikan jika proses infeksi hanya mencapai pulpa atau jaringan sekitarnya, tanpa tanda-tanda infeksi sistemik [yaitu, demam, atau pembengkakan wajah].

*Penatalaksanaan inflamasi akut yang berasal dari gigi:
Seorang anak yang mengalami pembengkakan wajah akibat infeksi gigi membutuhkan perawatan gigi segera. Tergantung pada tanda-tanda klinisnya, penatalaksanaannya dapat berupa perawatan atau ekstraksi gigi, serta terapi antibiotik. Alternatifnya, antibiotik dapat diberikan selama beberapa hari untuk menghindari penyebaran infeksi, yang dilanjutkan dengan perawatan gigi kausal. Profesional dental harus mengetahui keparahan infeksi dan kondisi umum anak dalam menentukan rujukan ke rumah sakit untuk administrasi antibiotik melalui jalur intravena.

*Penatalaksanaan traumatisme dental:
Aplikasi antibiotik secara lokal pada permukaan akar gigi yang mengalami avulsi [doksisisklin 1 mg/20 ml] mengurangi kemungkinan terjadinya reabsorbsi akar dan meningkatkan vaskularisasi pulpa. Administrasi antibiotik sistemik dapat dilakukan sebagai perawatan kombinasi [penisilin dan derivatnya dalam dosis tinggi, atau doksisiklin dosis-normal].

*Penatalaksanaan penyakit periodontal pediatrik:
Dalam penyakit periodontal yang berhubungan dengan neutropeni, Papillon-Lefevre syndrome, dan defisiensi adhesi leukosit, sistem imun anak tidak dapat mengendalikan pertumbuhan patogen periodontal. Jadi, dalam kasus semacam itu, dibutuhkan terapi antibiotik. Kultur dan uji kerentanan dapat dilakukan untuk memilih obat yang paling tepat dalam kasus semacam ini. Antibioterapi jangka panjang diindikasikan untuk penatalaksanaan penyakit periodontal kronis.

*Penatalaksanaan penyakit viral:
Primary herpetic gingivostomatitis bukanlah subyek terapi antibiotik kecuali jika terdapat tanda-tanda infeksi bakteri sekunder.

Pasien yang termasuk dalam indikasi antibiotik profilaksis
Antibiotik profilaksis pada pasien sehat diindikasikan jika direncanakan untuk melakukan pembedahan di lokasi yang terkontaminasi parah [misalnya, bedah periodontal]. Auto-transplantasi gigi juga dapat dilakukan bersamaan dengan terapi antibiotik. Pada pasien immunocompromised, profilaksis semacam itu harus selalu diberikan.
Dalam administrasi suatu antibiotik untuk keperluan profilaksis, konsentrasi obat dalam plasma harus jauh lebih tinggi dibandingkan jika antibiotik digunakan untuk tujuan terapeutik. Jadi, dosis profilaktik yang diberikan sebelum pembedahan haruslah dua kali lipat dibandingkan dosis terapeutik.
Antibiotik profilaksis diindikasikan untuk situasi berikut ini:
a)Pasien yang mengalami gangguan jantung akibat endokarditis; banyak pasien yang beresiko menderita endokarditis setelah menjalani perawatan dental, akibat riwayat gangguan jantung.
The American Academy of Pediatric Dentistry [AAPD] telah menyetujui pedoman pencegahan bakterial endokarditis yang dibuat oleh American Heart Association. Pedoman tersebut menegaskan abhwa anak-anak yang memiliki riwayat administrasi obat-obatan melalui intravena, dan anak-anak yang menderita sindrom tertentu [seperti, Down syndrome, atau Marfan syndrome], beresiko mengalami bakteriall endokarditis, akibat anomali jantung.
b)Pasien immunocompromise: pasien semacam ini tidak dapat mentolerir bakterimia transien setelah perawatan dental invasif. Jadi, pasien yang sedang menjalani kemoterapi, iradiasi, atau transplantasi sumsum tulang harus dirawat dengan hati-hati. Kriteria tersebut juga berlaku pada pasien yang mengalami kondisi berikut ini: infeksi human immunodeficiency virus [HIV], defisiensi imun, neutropenia, imunosupresi, anemia, splenectomy, terbiasa mengkonsumsi steroid, lupus eritematosus, diabetes, dan transplantasi organ.
c)Pasien yang memakai shunt, kateter atau protesa vaskuler: bakterimia setelah perawatan dental invasif akan meningkatkan kolonisasi pada kateter atau shunt vaskuler. Pasien yang menjalani dialisis atau kemoterapi, atau transfusi darah, juga sangat rentan terhadap gangguan ini.

Pemilihan antibiotik
Antibiotik oral yang efektif melawan infeksi odontogenik antara lain penisilin, klindamisin, eritromisin, cefadroxil, metronidazole, dan tetrasiklin. Antibiotik-antibiotik tersebut efektif melawan streptococci dan anaerob rongga mulut. Penisilin V adalah penisilin pilihan untuk kasus infeksi odontogenik. Yang bersifat bakterisidal, dan meskipun spektrum aksinya relatif terbatas, agen ini dapat digunakan untuk perawatan indeksi odontogenik. Untuk profilaksis endokarditis, yang berkaitan dengan perawatan dental, amoksisilin adalah antibiotik pilihan. Amoksisilin yang dikombinasikan dengan asam klavulanat [klavulanat] dapat digunakan dalam kasus-kasus tertentu, karena dapat mempertahankan aktivitas melawan betalaktamase yang biasa diproduksi oleh mikroorganisme penyebab infeksi odontogenik.
Klindamisin merupakan salah satu alternatif untuk pasien yang alergi terhadap penisilin. Obat tersebut bersifat bakteriostatik, meskipun secara klinis, dapat diperoleh aksi bakterisidal menggunakan dosis yang umum dianjurkan. Generasi makrolid terakhir, clarithromycin dan azithromycin juga dapat digunakan jika anak alergi terhadap penisilin. Sefalosporin cefadroxil merupakan pilihan tambahan jika dibutuhkan aksi dalam spektrum yang lebih luas. Metronidazole biasanya digunakan untuk melawan anaerob, dan biasanya diberikan dalam situasi yang dicurigai hanya terdapat bakteri anaerob. Tetrasiklin sangat jarang digunakan dalam praktek kedokteran gigi karena obat-obatan ini dapat menyebabkan perubahan warna gigi, sehingga tidak boleh diberikan pada anak yang berusia kurang dari 8 tahun, atau wanita hamil dan menyusui.

Durasi terapi antibiotik dalam infeksi odontogenik
Durasi ideal terapi antibiotik adalah siklus tersingkat yang mampu mencegah relaps klinis dan mikrobiologis. Sebagian besar infeksi akut akan sembuh dalam waktu 3-7 hari. Jika digunakan antibiotik oral, perlu dipertimbangkan pemberian dosis yang lebih tinggi agar diperoleh batas terapeutik dengan cepat.

KESIMPULAN
Sebelum melakukan perawatan dental pada anak-anak yang menderita beberapa jenis sindrom, gangguan medis atau penyakit lain yang kurang familier, dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter anak, agar kerentanan anak terhadap infeksi yang diinduksi melalui bakterimia dapat ditentukan.
Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan antibiotik untuk tujuan preventif atau terapeutik cenderung dikurangi. Langkah ini didasarkan pada bukti-bukti ilmiah yang ada, dan berdasarkan pengalaman profesional. Perkembangan resistensi bakteri, keraguan terhadap khasiat perawatan preventif, dan kemungkinan terjadinya reaksi toksik atau sampingan memunculkan berbagai pertanyaan tentang resiko dan manfaat penggunaan antibiotik. American Academic of Pediatric Dentistry telah menyajikan serangkaian pedoman klinis penggunaan antibiotik yang menganjurkan pemberian resep konservatif, hal ini dipicu oleh meningkatnya prevalensi resistensi.
Di Spanyol, dianjurkan untuk membuat suatu sistem pengawasan epidemiologis agar resistensi semacam itu dapat diawasi. Penelitian follow up periodik tingkat nasional yang dilakukan berbasis multi-center merupakan langkah yang bermanfaat untuk mengambil keputusan tentang cara terbaik menghindari insiden dan penyebaran resistensi bakteri.

Read more...

08 May 2009

Hubungan Trauma from Occlusion Dengan Penyakit Periodontal

Pendahuluan
Oklusi dan hubungannya dengan penyakit periodontal telah dan masih menjadi bahan kontroversi. Selama bertahun-tahun, sejumlah penelitian pada manusia dan binatang percobaan berusaha menyelidiki hubungan tersebut. tujuan Clinical Update ini adalah untuk meringkas penelitian terdahulua, mendeskripsikan tanda dan gejala trauma oklusi, dan membahas pertimbangan-pertimbangan perawatan.

Definisi
Sebelum membahas trauma oklusi, pemaparan definisi yang umum digunakan dapat membantu memahami subyek ini.

Trauma oklusal: Suatu perlukaan pada apparatus perlekatan akibat tekanan oklusal yang berlebihan. Trauma oklusal adalah perlukaan jaringan, bukan tekanan oklusal. Trauma oklusal dapat dibagi menjadi 3 kategori umum:
1)Trauma oklusal primer: Perlukaan akibat tekanan oklusal berlebihan yang diaplikasikan pada gigi-geligi yang memiliki dukungan normal. Contohnya, restorasi yang tinggi, bruksisme, pergeseran atau ekstrusi ke ruang edentulous, dan pergerakan ortodontik.
2)Trauma oklusal sekunder: Perlukaan akibat tekanan oklusal normal yang diaplikasikan pada gigi-geligi tanpa dukungan yang adekuat.
3)Trauma oklusal kombinasi: Perlukaan akibat tekanan oklusal berlebihan pada periodonsium yang berpenyakit. Dalam kasus ini, terjadi inflamasi gingiva, pembentukan poket, dan tekanan oklusal berlebihan yang umumnya disebabkan oleh tekanan parafungsional.

Oklusi traumatogenik: Oklusi yang dapat menghasilkan tekanan penyebab perlukaan pada apparatus perlekatan.

Traumatisme oklusal: Proses keseluruhan dimana oklusi traumatogenik mengakibatkan perlukaan apparatus perlekatan periodontal.


Latar Belakang
Kurang lebih 100 tahun lalu, diduga bahwa oklusi berperan signifikan dalam penyakit periodontal dan pembentukan celah vertikal. Glickman memperkenalkan Theory of Codestruction untuk menjelaskan hubungan antara oklusi dengan penyakit periodontal. Beliau mendeskripsikan dua regio dalam periodonsium: zona iritasi [gingiva marginal dan interdental dan serat transeptal] dan zona kodestruksi [ligamentum periodontal, tulang alveolar, sementum, serat transeptal dan crest alveolar]. Beliau menduga bahwa inflamasi gingiva yang diinduksi oleh plak terjadi di zona iritasi. Tekanan oklusi atau oklusi traumatogenik menyerang zona kodestruksi namun tidak menyebabkan inflamasi gingiva. Namun, trauma oklusal yang dikombinasikan dengan inflamasi yang diinduksi oleh plak menimbulkan tekanan kodestruktif akibat perubahan jalur normal inflamasi dan pembentukan defek tulang angular serta poket infrabony.

Berbeda dengan teori kodestruksi, Warhaug menyatakan bahwa tidak ada bukti bahwa trauma oklusal menyebabkan atau berperan sebagai suatu kofaktor dalam pembentukan defek angular. Beliau menduga bahwa poket infrabony disebabkan oleh peningkatan “plaque front” atau perkembangan plak subgingiva di apikal, dan pembentukan defek tulang horisontal ataupun angular tergantung pada lebar tulang interproksimal. Gigi-geligi yang memiliki tulang interproksimal sempit mengalami defek horisontal sedangkan gigi-geligi yang memiliki tulang interproksimal lebar cenderung mengalami defek angular atau vertikal.

Sejumlah penelitian pada binatang percobaan menggunakan Squirrel Monkey dan Beagle Dog mengevaluasi efek tekanan jiggling/goncangan yang berlebihan dalam kondisi periodontitis eksperimental. Kedua kelompok ini memberikan hasil yang berbeda dan mungkin disebabkan oleh perbedaan desain penelitian dan model binatang yang digunakan.

Kesimpulan penelitian tersebut adalah sebagai berikut:
1)Trauma oklusal tidak memicu inflamasi gingiva
2)Jika tidak terjadi inflamasi, oklusi traumatogenik akan meningkatkan mobilitas, pelebaran PDL, penurunan tinggi tulang crestal dan volume tulang, namun tidak terjadi kehilangan perlekatan.
3)Jika terjadi inflamasi gingiva, tekanan jiggling yang berlebihan tidak akan mempercepat kehilangan perlekatan pada squirrel monkey namun peningkatan tekanan oklusal akan mempercepat kehilangan perlekatan pada Beagle dog.
4)Perawatan inflamasi gingiva dalam kondisi mobilitas kontinyu atau trauma jiggling akan mengurangi mobilitas dan meningkatkan densitas tulang, namun tidak akan mengubah tinggi perlekatan atau tulang alveolar.

Tanda dan Gejala
Saat mengevaluasi pasien yang dicurigai mengalami trauma oklusal, terdapat sejumlah gejala klinis dan radiografik. Indikator trauma oklusi tersebut adalah sebagai berikut:

Klinis
1.mobilitas [progresif]
2.nyeri saat mengunyah atau perkusi
3.fremitus
4.prematuritas/diskrepansi oklusal
5.keausan yang disertai dengan beberapa indikator klinis lainnya
6.migrasi gigi
7.gigi retak atau fraktur
8.sensitivitas termal

Radiografik
1.pelebaran ruang PDL
2.kehilangan tulang [furkasi, vertikal, sirkumferensial]
3.resorpsi tulang

Tujuan terapeutik dan pertimbangan perawatan
Tujuan terapi periodontal dalam perawatan traumatisme oklusal harus dilakukan untuk memelihara kenyamanan dan fungsi periodonsium. Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu dipertimbangkan beberapa pilihan perawatan, sebagai berikut:
a.penyesuaian oklusal [occlusal adjustment]
b.penatalaksanaan kebiasaan parafungsional
c.stabilisasi gigi-geligi yang goyang secara temporer, provisional, atau jangka panjang menggunakan alat lepasan ataupun cekat
d.pergerakan gigi ortodontik
e.rekonstruksi oklusal
f.pencabutan gigi tertentu

Penyesuaian oklusal atau grinding selektif didefinisikan sebagai reshaping permukaan oklusi gigi-geligi melalui grinding untuk menciptakan relasi kontak yang harmonis antara gigi-geligi rahang atas dan bawah. Karena terdapat kontroversi dalam hal trauma oklusi dan perannya dalam perkembangan penyakit periodontal, hal tersebut juga berlaku dalam subyek penyesuaian oklusal. Workshop in Periodontics tahun 1989 membuat daftar indikasi dan kontraindikasi penyesuaian oklusal sebagai berikut:

Indikasi penyesuaian oklusal
1)Untuk mengurangi tekanan traumatik gigi-geligi yang menimbulkan:
- Peningkatan mobilitas atau fremitus agar terjadi perbaikan apparatus perlekatan periodontal
- Ketidaknyamanan selama kontak atau fungsi oklusal
2)Untuk memperoleh hubungan fungsional dan efisiensi pengunyahan melalui perawatan restoratif, ortodontik, bedah ortognatik, ataupun trauma rahang jika diindikasikan.
3)Sebagai terapi tambahan untuk mengurangi kerusakan akibat kebiasaan parafungsional
4)Reshape gigi-geligi yang berperan dalam perlukaan jaringan lunak ini
5)Untuk menyesuaikan relasi marginal ridge dan cusp yang menyebabkan impaksi makanan


Kontraindikasi penyesuaian oklusal
1)Penyesuaian oklusal tanpa pemeriksaan, dokumentasi, dan penyuluhan pasien pra-perawatan yang cermat
2)Penyesuaian profilaktik tanpa tanda dan gejala trauma oklusal
3)Sebagai perawatan primer inflamasi penyakit periodontal yang diinduksi oleh mikroba
4)Jika status emosional pasien tidak memberikan hasil yang memuaskan
5)Kasus ekstrusi parah, mobilitas atau malposisi gigi-geligi yang tidak akan memberikan respon jika hanya dilakukan penyesuaian oklusal saja.

Sejumlah penelitian melaporkan bahwa terjadinya diskrepansi oklusal tidak berhubungan dengan peningkatan kerusakan yang disebabkan oleh penyakit periodontal. Burgett menemukan bahwa pasien yang menjalani perawatan penyesuaian oklusal sebagai salah satu bagian dari perawatan periodontal, secara statistik, memperoleh peningkatan tinggi perlekatan yang lebih baik dibandingkan dengan pasien yang tidak menjalani perawatan penyesuaian oklusal. Meskipun hasil tersebut dinyatakan signifikan secara statistik, perbedaan klinis tersebut tidak memiliki signifikansi klinis. World Workshop in Periodontics pada tahun 1996 menemukan beberapa penelitian tentang peran oklusi dalam penyakit periodontal. Mereka tidak menemukan penelitian prospektif terkontrol tentang peran oklusi dalam penyakit periodontal yang tidak dirawat dan pertimbangan etika membatasi dilakukannya penelitian semacam itu. Baru-baru ini, dua penelitian pada manusia menemukan bahwa gigi-geligi yang mengalami diskrepansi oklusal memiliki kedalaman probing yang lebih dalam, mobilitas yang lebih besar dan prognosis yang lebih buruk dibandingkan dengan gigi-geligi tanpa diskrepansi oklusal. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa perawatan diskrepansi oklusal berhasil mengurangi perkembangan penyakit periodontal, secara signifikan, dan merupakan salah satu faktor penting dalam keseluruhan perawatan penyakit periodontal.

Telah diketahui bahwa penyesuaian oklusal yang hanya ditujukan untuk menentukan pola konseptual yang ideal, dikontraindikasikan. Perawatan tersebut sebaiknya hanya dilakukan jika ditujukan untuk mempermudah perawatan atau menghambat tekanan destruktif aktif. Jika direncanakan untuk melakukan terapi oklusal sebagai bagian dari perawatan periodontal, biasanya ditunda sampai terapi awal yang ditujukan untuk meminimalisir inflamasi periodonsium telah selesai. Langkah ini didasarkan pada fakta bahwa inflamasi saja dapat berperan signifikan dalam mobilitas gigi.

Berikut ini adalah indikasi dan kontraindikasi splinting seperti yang dibuat dalam World Workshop in Periodontics tahun 1989:
Indikasi splinting
1.Menstabilkan gigi-geligi yang memiliki mobilitas tinggi dan tidak memberikan respon terhadap penyesuaian oklusal dan perawatan periodontal.
2.Menstabilkan gigi-geligi yang memiliki mobilitas tinggi dan tidak memberikan respon terhadap penyesuaian oklusal dan perawatan, serta terjadi gangguan fungsi normal dan kenyamanan pasien
3.Mempermudah perawatan gigi-geligi pasien yang sangat mobile melalui splinting sebelum instrumentasi periodontal dan prosedur penyesuaian oklusal
4.Mencegah tipping atau pergeseran gigi-geligi dan ekstrusi gigi-geligi yang tidak memiliki antagonis
5.menstabilkan gigi-geligi setelah pergerakan ortodontik, jika perlu
6.Menciptakan stabilitas oklusal yang adekuat jika akan dilakukan penggantian gigi-geligi
7.Splint gigi-geligi sehingga akar dapat dicabut dan mahkota tertahan di tempatnya
8.Menstabilkan gigi-geligi setelah trauma akut

Kontraindikasi splinting
1)jika perawatan inflamasi penyakit periodontal belum dilakukan
2)jika penyesuaian oklusal untuk mengurangi trauma dan/atau gangguan belum pernah dilakukan
3)jika tujuan splinting hanya untuk mengurangi mobilitas gigi setelah splint dilepas

Beberapa penelitian menunjukkan terjadinya peningkatan resorpsi tulang dan kehilangan perlekatan pada gigi-geligi yang mobile dan fremitus. Mobilitas gigi dapat disebabkan oleh trauma oklusi, resorpsi tulang alveolar dan kehilangan perlekatan periodontal, serta inflamasi periodontal. Pada kenyataannya, splinting gigi-geligi dalam kondisi hiperoklusi akan membahayakan gigi-geligi lainnya yang di-splint. Sejumlah penelitian menunjukkan tidak adanya perbedaan antara gigi-geligi yang di-splint selama atau setelah terapi awal [skeling dan root planing], atau bedah resektif tulang dibandingkan dengan gigi-geligi yang tidak di-splint. Meskipun data yang ada sangat terbatas, mobilitas gigi pada gigi-geligi yang sangat mobile perlu dilakukan saat mempertimbangkan prosedur regeneratif.

Ringkasan
Meskipun peran oklusi dalam perkembangan penyakit periodontal telah dibahas dan diselidiki selama lebih dari 100 tahun, serta telah dan masih menjadi salah satu subyek kontroversi. Telah dipahami bahwa trauma oklusi tidak memicu atau mempercepat kehilangan perlekatan akibat penyakit periodontal inflamasi. Namun, masih dipertanyakan apakah ada hubungan antara trauma oklusi dengan peningkatan mobilitas gigi progresif menyebabkan kehilangan perlekatan pada pasien yang mengalami penyakit periodontal inflamasi. Oleh karena itu, perawatan pasien periodontal yang mengalami gangguan oklusal merupakan tujuan pertama terapi harus ditujukan untuk meredakan inflamasi yang diinduksi oleh plak. Jika hal ini telah dilakukan, kemudian dapat dilakukan perawatan untuk menyesuaikan oklusi. Hal ini akan mengurangi mobilitas, mengurangi lebar ruang ligamentum periodontal, dan meningkatkan volume tulang. Terakhir, untuk kasus terapi degeratif, perlu dipertimbangkan untuk menstabilkan gigi-geligi yang mobile, sebelum pembedahan dilakukan.

Read more...

14 April 2009

Resin-Modified Glass Ionomer Cement dan Bahan Resin-Based sebagai Sealant Oklusal: Suatu Penelitian Klinis Longitudinal

Abstrak
Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan retensi, keefektivan pencegahan karies dan karakteristik superfisial dua jenis bahan yang digunakan sebagai sealant oklusal.
Metode: Sampel terdiri dari 108 anak sekolah dengan mean usia 7,5+1,25 tahun, dimana terdapat 364 gigi molar satu permanen dibagi menjadi 6 kelompok: (1) grup 1 = Delton + rubber dam [hanya digunakan dalam kelompok ini]; (2) = Delton + cotton roll; (3) grup 3 = Prime&Bond 2,1 + Delton; (4) grup 4 = Vitremer dengan perbandingan bubuk/larutan 0,25:1; (5) grup 5 = Primer + Vitremer dengan perbandingan bubuk/larutan 0,25:1; dan (6) grup 6 = Vitremer dengan perbandingan bubuk/laruran 1:1.
Hasil: Setelah 12 bulan, rata-rata retensi total kelompok 6, 1, 2, 3, 4 dan 5, secara berurutan, adalah 92%, 79%, 67%, 52%, 41%, dan 12%. Pada ketiga daerah oklusal, retensinya adalah 97%, 92%, 86%, 77%, 69% dan 36%. Untuk kriteria modifikasi: proporsi yang diuji menunjukkan selisih yang signifikan secara statistik (P < 0.05) antara grup 1 dan 3; grup 6 dan 2; serta grup 3,4 dan 5 dengan grup lainnya. Jika mempertimbangkan ketiga daerah, ditemukan perbedaan yang signifikan secara statistik (P < 0.05) antara grup 1 dan 6 dengan grup 3 dan 4, grup 2 dengan grup 4, dan grup 6 dan 5 dengan grup lainnya.
Kesimpulan: Resin-modified glass ionomer cement menjadi salah satu alternatif membandingkan sebagai suatu sealant oklusal.
Kata Kunci: Pit dan fissure sealant, resin-modified glass ionomer cement, sealant berbasis-resin
Sumber: J Dent Child 2008; 75: 134-43.

Pit dan fissure sealant telah digunakan dalam strategi preventif sejak tahun 1970an, dan menjadi perawatan non-invasif yang paling efektif untuk mencegah karies oklusal yang terhenti [arrested]. Namun, menurut suatu penelitian dari Third National Health and Nutrition Examination Survey (1988-1991) satu dari lima anak yang memperoleh manfaat metode pencegahan yang aman dan efektif ini.
Saat ini, tersedia 2 tipe pit dan fissure sealant, yaitu sealant berbasis-resin dan semen glass ionomer (GIC). Sebagian besar sealant yang dipasarkan adalah resin-based. Manfaat preventif dan retensi tipe sealant tersebut hanya dapat diperoleh dan dipertahankan selama sealant tetap utuh dan melekat pada tempatnya.
Isolasi yang kurang adekuat dan kontaminasi adalah alasan utama kegagalan sealant. Dan, gigi yang erupsi cenderung mengalami karies gigi, namun, akibat kondisi yang menguntungkan untuk akumulasi plak. Selain itu, penggunaan rubber dam pada gigi-geligi tersebut sulit dilakukan. Jadi, perlekatan bonding agent dengan sealant resin-based atau tumpatan GIC dapat menjadi alternatif dalam kasus-kasus yang tidak memungkinkan dilakukannya kontrol kelembaban secara adekuat.
Sejak mulai diperkenalkan, GIC berhasil digunakan dalam beberapa situasi klinis. Adhesi semen dengan email dan dentin yang tidak diberi perlakuan dalam kondisi lembab, biokompabilitas jaringan gigi dengan potensi pelepasan fluorida dan diperkenalkannya resin-modified GIC yang lebih kuat dan resisten merupakan alasan utama penggunaan bahan ini secara luas sebagai bahan restoratif dan bonding, terutama dalam kedokteran gigi anak. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengevaluasi berbagai jenis bahan dan teknik aplikasi GIC. Namun, retensi semen ini sebagai pit dan fissure sealant masih kurang memuaskan.
Penelitian terbaru membuktikan hasil yang lebih baik jika diaplikasikan lapisan bonding alternatif antara email dan sealant resin-based, setelah email yang dietsa berkontak dengan saliva. Selain mengurangi terjadinya microleakage [kebocoran mikro], teknik ini juga mengurangi efek negatif kontaminasi terhadap bond strength.
Menurut hasil tinjauan asimetrik, keefektivan sealant resin dalam mengunrangi karies sangat jelas, namun data tentang glass ionomer kurang meyakinkan. Dalam tinjauan sistematik lain oleh Mejare dkk, disimpulkan bahwa bukti-bukti yang menyatakan efek pencegahan-karies oleh fissure sealant GIC kurang lengkap. Di sisi lain, Beirute dkk, menyimpulkan bahwa tidak ada bukti bahwa bahan resin-based ataupun GIC memiliki keunggulan dalam pencegahan perkembangan karies pada pit dan fissure dari waktu ke waktu. Dalam pembahasannya, Feigal dan Donly menyatakan bahwa bahan glass ionomer dapat digunakan sebagai sealant transisional dan terbukti efektif sebagai pit dan fissure sealant jangka panjang.
Jadi, tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi dan membandingkan resin-modified GIC dengan sealant resin-based dengan atau tanpa suatu bonding agent, berdasarkan aspek-aspek berikut: retensi, keefektivan dalam mencegah karies, karakteristik marginal, dan karakteristik superfisial.

METODE

Penelitian ini memperoleh persetujuan dari Ethics Committee of Bauru Dental School, University of Sao Paulo, Sao Paulo, Brazil, dimana penelitian ini dikembangkan. Kriteria inklusi penelitian ini adalah surat ijin tertulis dari orang tua dan/atau wali serta setiap anak memiliki sekurang-kurangnya 2 gigi molar satu permanen tanpa kavitas.
Seluruhnya, terdapat 108 anak dengan mean usia 7,5 + 1,25 tahun (kisaran = 5 sampai 10 tahun, 11 bulan) yang direkrut dari populasi pasien di klinik gigi anak. Gigi-geligi dipilih setelah profilaksis menggunakan air-polishing prophylaxis unit (Profident, Dabi-Atlante, S. A. Ribeirao Preto, Sao Paulo, Brazil) dan dilakukan 2 radiografi bite wing untuk mengevaluasi ada/tidaknya lesi karies oklusal atau proksimal.
Digunakan sealant resin-based chemical cured (Delton, Dentsply Ind Com Ltda. Rio de Janeiro, Brazil) dengan dan tanpa bonding agent (Prime & Bond 2.1, Dentsply Ind Com Ltda). Juga digunakan resin-modified glass ionomer (Vitremer 3M Dental Product, St Paul, Minn) dalam dua macam proporsi bubuk/cairan: (1) 0,25:1 (dengan dan tanpa primer) dan (2) 1:1 (tanpa primer).
Distribusi setiap anak dalam 1 dari 6 grup mengikuti desain yang direncanakan, yaitu berdasarkan indeks DFS dan DMFS yang sama, jumlah gigi-geligi permanen (gigi molar satu kanan dan kiri rahang atas dan bawah), dan tingkat erupsinya. Multivariate analysis of variance (MANOVA) diaplikasikan pada hasil indek, dengan tingkat signifikansi 5%. Seluruh sampel terdiri dari 364 gigi, dimana terdapat sekurang-kurangnya 50 gigi dalam setiap kelompok. Split-mouth design tidak digunakan dalam penelitian ini. Jadi, setiap anak diberi perlakuan menggunakan satu bahan atau variasi teknik yang serupa dalam satu kelompok.
Pada semua kelompok, sealant diaplikasikan setelah aplikasi profilaksis menggunakan air-polishing jet (Profident, Dabi-Atlante S.A, Riberao Preto, Sao Paulo, Brazil) yang dilanjutkan dengan etsa menggunakan gel asam fosfat [37%] (Dentsply Ind Com Ltda, Petropolis, Rio de Janeiro, Brazil) selama 15 detik, kemudian dibilas dengan air selama 30 detik, dan dikeringkan. Rubber dam hanya digunakan pada grup 1. Aplikasi sealant pada kelompok lainnya dilakukan dalam isolasi relatif menggunakan cotton roll.
Peralatan yang sama juga digunakan untuk polimerisasi bonding agent, primer dan Vitremer (Optilux Demetron Research Corporation, Danburry, Conn). Intensitas sinar (550 mW/cm) yang digunakan diperiksa dengan radiometer (model no. 100 curing radiometer P/N 10503 DFL Ind Com S.A, Rio de Janeiro, Brazil) sebelum penelitian dimulai setiap hari. Semua sealant hanya diaplikasikan oleh satu operator. Oklusi tidak diperiksa, karena unfilled resin sealant atau GIC akan aus akibat oklusi tanpa menimbulkan efek samping yang berbahaya. Deskripsi keenam kelompok adalah sebagai berikut:
1.Grup 1 (Delton + rubber dam) dan 2 (Delton + cotton roll). Delton diaplikasikan sesuai dengan instruksi pabrik.
2.Grup 3 (Prime & Bond 2.1 + Delton). Selapis tipis bonding agent diaplikasikan selama 20 detik menggunakan brush, dan ditipiskan menggunakan tekanan udara [air-thinned] selama 5 detik, dan curing selama 10 detik. Delton diaplikasikan di atas lapisan bonding agent sesuai dengan petunjuk pabrik.
3.Grup 4 (Vitremer 0,25:1). Bahan dicampurkan untuk memperoleh konsistensi yang lebih cair, sesuai dengan proporsi berikut ini—seperempat bubuk yang dianjurkan untuk setiap tetes cairan. Untuk memperoleh perbandingan tersebut, satui sendok penuh bubuk (Vitremer) ditimbang sebanyak 10 kali (Analytic Balance Model PL 3002, Mettler Toledo, Greinfensee, Swiss). Nilai mean (0,14629) dibagi menjadi empat untuk memperoleh jumlah bubuk yang akan digunakan (0,037 g). Kemudian, disiapkan sendok plastik lainnya dan sand paper disc (Soft Lex 3M do Brazil Ltda, Sao Paulo, Brazil) untuk memuat bubuk dalam jumlah yang disebutkan di atas, sehingga diperoleh perbandingan bubuk/cairan baru yang terstandardisasi. Bahan cair ini diinsersikan dalam fissure menggunakan sonde dan dilakukan curing selama 40 detik.
4.Grup 5 (Primer + Vitremer 0,25:1): Primer diaplikasikan menggunakan brush (KG Brush-KG Sorensen Ind Com Ltda Barueri S.P, Brazil) selama 30 detik, kemudian dikeringkan dengan semprotan udara selama 15 detik, dan curing selama 20 detik. Cara aplikasi Vitremer sama dengan grup 4.
5.Grup 6. Vitremer (1:1): Digunakan perbandingan bubuk/cairan sesuai dengan aturan pabrik. Bahan diinsersikan ke dalam fissure menggunakan spatula logam (Thompson no. 9-Dental MFG Co. Missoula, Mont, AS) dan dilakukan curing selama 40 detik.

Prosedur blinding pemeriksa terhadap bahan tidak mungkin dilakukan, karena Delton dan Vitremer terlihat sangat berbeda satu sama lain. Namun, blinding pemeriksaan mungkin dilakukan, karena menggunakan berbagai macam teknik pada setiap bahan.
Retensi sealant (total = TR’ parsial = PR, dan hilang = L) dievaluasi pada bulan ke 6 dan 12 oleh dua orang pemeriksa yang telah dikalibrasi dan bekerja sama menggunakan kriteria yang dimodifikasi dari Ryge dan Snyder (Tabel 5). Retensi berdasarkan area, yaitu pada mesio-oklusal (MO), sentral-oklusal (CO) dan disto-oklusal (DO) juga dievaluasi. Sealant diperiksa secara klinis menggunakan inspeksi visual dan lampu operasi yang terang, serta sonde dan dikeringkan dengan semprotan udara. Reproduksibilitas intra- dan inter-pemeriksa pada gigi-geligi yang ditumpat, untuk karakteristik superfisial dan retensi tumpatan selama proses pemeriksaan-ulang kurang lebih 20%, berdasarkan Cohen’s kappa test. Hasilnya dianalisis menggunakan uji perbandingan multipel Tukey, dengan tingkat signifikansi 5%.

HASIL
Dalam hal retensi, reproduksibilitas inter- dan intra-pemeriksa, secara berurutan, adalah 0,88 dan 0,93. Dalam hal karakteristik superfisial, reproduksibilitasnya, masing-masing, adalah 0,889 dan 0,80 sampai 0,85.
Pada awal penelitian, sealant diaplikasikan pada 108 anak, 98 diantaranya menjalani pemeriksaan follow up selama 6 bulan dan 88 anak lainnya kembali setelah 12 bulan. Dan pada dua kesempatan tersebut, masing-masing, terdapat 329 dan 293 gigi yang diperiksa.
Retensi semua grup yang menggunakan kriteria modifikasi atau kriteria area, masing-masing, diuraikan dalam Tabel 1 dan 2.
Retensi total (Alfa) menunjukkan perbedaan yang signifikan pada kedua periode evaluasi. Pada periode 6 bulan, ditemukan perbedaan yang signifikan antara: (1) grup 5 dengan kelima grup lainnya, dan (2) grup 6 dengan grup 3 dan 4. Pada periode 12 bulan, ditemukan perbedaan yang signifikan antara (1) grup 5 dengan kelima grup lainnya, (2) grup 6 dengan grup 2 dan 3; dan (3) grup 4 dengan grup 1 dan 6.
Pada bulan keenam, jika mempertimbangkan retensi total pada ketiga area secara bersamaan, diperoleh perbedaan yang signifikan, antara: (1) grup 1 dengan grup 3, (2) grup 6 dengan grup 2, (3) grup 3 dengan grup 4, dan (4) grup 4 dan 5 dengan keempat grup lainnya. Perbedaan yang signifikan juga ditemukan pada periode 12 bulan, antara: (1) grup 1 dan 6 dengan grup 3 dan 4, (2) grup 2 dengan grup 4 dan 6, dan (3) gruip 5 dengan kelima grup lainnya. Dalam hal 3 kategori retensi (TR, PR, L), tidak ditemukan perbedaan yang signifikan secara statistik pada ketiga area, pada periode 6 dan 12 bulan. Meskipun tidak ada daerah TR yang prevalen pada kedua periode evaluasi, L paling prevalen pada daerah MO, meskipun perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik.
Gigi yang tidak ditumpat mengalami karies pit dan fissure selama 6 bulan pertama penelitian (Tabel 3). Setelah 12 bulan, ditemukan 7 karies gigi pada grup 2,3 dan 5, namun perbedaannya tidak signifikan. Dua dari lesi-lesi tersebut mencapai dentik dalam grup 2 dan 5 (Tabel 4).
Diskrepansi marginal ditemukan pada semua kelompok. Pada bulan ke 6, grup 5 memiliki jumlah gigi terbanyak yang mengalami diskontinyuitas marginal (63%), yang sama dengan kurang dari 50% kontur asli, sedangkan grup 6 tidak memiliki kasus. Grup 5 memiliki perbedaan yang signifikan dengan kelima grup lainnya (P < 0.05). Grup 6 memiliki perbedaan yang signifikan dengan grup 3, 4 dan 5 (Tabel 3). Setelah 6 bulan, semua kelompok memiliki penambahan jumlah gigi yang mengalami diskrepansi marginal. Hanya 6 gigi (10%) dalam grup 5 yang masih memiliki kontur asli. Hasil tersebut dinyatakan signifikan jika dibandingkan dengan grup 2, 3, 4 dan 6 (Tabel 4).
Pada bulan ke 6, hanya gigi-geligi yang ditumpat dengan resin-modified GIC yang mengalami diskolorisasi marginal. Diskolorisasi dinyatakan prevalen dalam grup 4 (24%) yang diikuti dengan grup 5 (12%). Ditemukan perbedaan yang signifikan antara (1) grup 4 dengan grup 1, 2, 3 dan 6; dan (2) grup 5 dengan grup 2 dan 3 (Tabel 3). Pada periode 12 bulan, meskipun grup 3 mengalami diskolorisasi marginal pada 2 gigi, insiden terbesarnya ditemukan dalam grup 6 (33%), dimana ditemukan perbedaan yang signifikan antara: (1) grup 4 dan 6 dengan grup 1 dan 2, dan (2) grup 3 dan 5 dengan grup 1 dan 2 (Tabel 4).
Pada periode 6 dan 12 bulan, perubahan tekstur superfisial hanya ditemukan pada gigi-geligi yang ditumpat dengan resin-modified GIC. Perbedaan antara grup 4, 5 dan 6 dibandingkan dengan grup 1,2 dan 3 dinyatakan signifikan secara statistik (Tabel 3), dan kemajuan ditemukan dalam grup 6 (Tabel 4) pada evaluasi kedua.
Pada periode 6 bulan, tidak ditemukan perbedaan yang signifikan dalam hal diskolorisasi superfisial pada setiap kelompok (Tabel 3). Namun, pada periode 12 bulan, grup 4 dan 5 memiliki jumlah gigi terbanyak yang tidak mengalami diskolorisasi superfisial, dan ditemukan perbedaan yang signifikan secara statistik antara grup tersebut dengan grup 1 (Tabel 4). Gambar 1 sampai 3 menunjukkan foto klinis beberapa tumpatan pada periode 12 bulan.

PEMBAHASAN
Sealant merupakan salah satu komponen penting dalam praktek modern, berbasis-ilmiah dan berorientasi pada pencegahan. Jika diaplikasikan pada masa kanak-kanak, memiliki efek preventif-karies jangka panjang. Bahan ini paling efektif diaplikasikan pada pasien yang beresiko mengalami karies oklusal. Strategi penumpatan gigi-geligi yang beresiko tinggi dan rendah akan memberikan hasil yang lebih baik, namun dibutuhkan biaya tambahan dibandingkan dengan penumpatan yang dilakukan hanya pada gigi-geligi beresiko saja. Seperti yang ditemukan oleh Bhuridei dkk, gigi-geligi molar satu permanen yang telah diberi sealant, jarang membutuhkan perawatan restoratif dibandingkan dengan gigi-geligi tanpa sealant. Menurut Badovinac dkk, penggunaan kriteria dmfs + DMFS > 0 dapat membantu tenaga profesional kesehatan masyarakat dalam menentukan anak-anak yang harus diberi aplikasi sealant, jika sumber dayanya tidak memungkinkan untuk aplikasi sealant pada semua anak.
Terdapat beberapa aspek yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagaln aplikasi sealant, seperti karakteristik pasien atau gigi, bahan yang digunakan, teknik aplikasi, dan ketrampilan operator.
Beberapa penelitian yang membandingkan sealant resin-based dan GIC sebagai sealant seringkali menggunakan desain split mouth untuk mengurangi pengaruh pasien. Desain ini tidak digunakan dalam penelitian ini karena kedua bahan yang dievaluasi dengan/tanpa 2 macam bonding agent dan menggunakan 4 macam teknik. Maka, diputuskan untuk menggunakan 1 macam variasi per anak. Untuk distribusinya, digunakan indeks karies yang sama, dimana 15% anak berpartisipasi dalam penelitian klinis lain yang menguji Vitremer dan bahan berbasis-komposit. Menggunakan dasar pemikiran bahwa aplikasi restorasi glass ionomer akan meningkatkan konsentrasi fluorida dalam saliva selam periode waktu yang cukup lama. Diketahui bahwa sistem pelepasan fluorida secara perlahan dan jangka panjang dapat menjadi langkah preventif karies yang efektif, menurut Koch dan Hatibovic-Kofman, serta dapat menutupi beberapa perbedaan bahan dalam rongga mulut yang sama.
Aplikasi sealant dalam kondisi normal sangat penting (angka kegagalan yang tinggi cenderung disebabkan oleh kontaminasi kelembaban yang tidak diinginkan). Beberapa penelitian yang membandingkan aplikasi Delton menggunakan isolasi rubber dam dan cotton roll tidak menunjukkan selisih nilai retensi yang signifikan. Berdasarkan hasil tinjauan sistematik, penggunaan rubber dam tidak mempengaruhi retensi sealant resin-based autopolimerisasi. Dalam penelitian ini, penggunaan rubber dam untuk meningkatkan retensi Delton, tidak dibutuhkan. Meskipun aplikasi sealant menggunakan cotton roll kurang nyaman bagi pasien anak dan membutuhkan ketrampilan operator, isolasi rubber dam dianjurkan jika gigi telah cukup erupsi agar dapat menahan klem-nya, dan jika gigi terletak dalam satu kuadran yang membutuhkan operative denistry. Namun, isolasi rubber dam tidak dianjurkan jika hanya untuk satu tumpatan karena dibutuhkan anestetik lokal untuk memasangkan klem. Dan, jika menunggu sampai gigi molar erupsi sempurna untuk aplikasi fissure sealant menggunakan rubber dam, dibutuhkan biaya yang lebih banyak, serta gigi mungkin saja mengalami karies selama fase eruptif.
Khasiat sealant dalam pencegahan karies berhubungan dengan kinerja jangka panjang dan masa retensi. Evaluasi sealant seringkali menggunakan tiga kriteria: (1) retensi sempurna, (2) retensi parisal, dan (3) terlepas seluruhnya. Beberapa penelitian melakukan evaluasi retensi berdasarkan area. Evaluasi berdasarkan tipe area mempermudah analisis yang lebih jelas tentang retensi tumpatan dan insiden lokal karies, serta hubungannya.
Telah banyak penelitian yang dilakukan untuk menyelidiki bahan atau teknik yang dapat meminimalisir kesulitan memperoleh kontrol saliva yang adekuat dan meningkatkan bonding email-sealant. Bonding agent dibuat untuk meningkatkan perlekatan/adhesi resin terhadap email. Beberapa penelitain terbaru mendukung hipotesis bahwa bahan tersebut menghasilkan adhesi yang sempurna terhadap email dan dapat mengatasi efek negatif kontaminasi saliva. Namun, hasil penelitian ini tidak membuktikan penemuan Feigal dkk, tersebut. Jika Delton digunakan bersama bonding agent (grup 3), TR—dengna mempertimbangkan kedua kriteria evaluasi (Tabel 1 dan 2)—lebih inferior dibandingkan dengan penggunaan bahan yang sama tanpa adhesif, meskipun perbedaannya tidak signifikan.
Hasil penelitian ini mendukung penemuan terdahulu oleh Boksman dkk, yang tidak membuktikan peningkatan nilai retensi menggunakan bonding agent, yang diaplikasikan sebelum sealant resin-based dan rubber dam. Jadi, sepertinya kontaminasi, ada ataupun tidak, tidak dipengaruhi oleh kinerja sealant-adhesif. Dalam penelitian ini, hanya satu lapisan bonding agent yang di-curing sebelum aplikasi Delton, karena untuk menggunakan prosedur tambahan maka dibutuhkan tingkat kooperatif anak yang lebih tinggi—yang terkadang, menjadi salah satu masalah dalam kedokteran gigi anak. Hasil penelitian ini juga mendukung penemuan Pinar dkk, yang tidak menemukan perbedaan antar sealant, dengan dan tanpa bonding agent, yang dihubungkan dengan integritas marginal, diskolorisasi marginal dan bentuk anatomis.
Dilaporkan bahwa retensi sealant resin-based lebih baik dibandingkan dengan sealant glass ionomer. Dalam penelitian ini, Vitremer dengan perbandingan bubuk/cairan 1:1 memiliki nilai retensi tertinggi pada kedua sistem evaluasi, pada bulan ke 6 dan 12 (Tabel 1 dan 2). Dibandingkan dengan grup 4 dan 5, hasil ini mungkin disebabkan oleh beberapa faktor. Karena dalam grup 6, tidak digunakan Vitremer dalam konsistensi cairan, sifat fisik dan mekanisnya tetap terjaga, sehingga kelarutannya berkurang. Dan diapilkasikan menggunakan tekanan, yang mengurangi pembentukan gelembung internal, sehingga porositas yang berperan dalam kelemahan bahan. Namun, ditemukan juga bahwa primer berperan dalam TR terparah dalam grup 5, yang mengganggu adhesi Vitremer terhadap email. Hasil ini sesuai dengan penelitian lainnya, dimana primer diaplikasikan tanpa perlakuan etsa asam email terlebih dahulu.
Etsa asam email berperan penting dalam retensi bahan adhesif. Hasil penelitian in vitro dan in vivo menunjukkan bahwa etsa permukaan oklusal akan meningkatkan perlekatan GIC pada email. Hal ini meningkatkan tampilan bahan, yang juga dibuktikan dalam beberapa penelitian lain menggunakan GIC konvensional atau resin-modified, yang diaplikasikan setelah etsa, dibandingkan dengan aplikasi tanpa etsa asam.
Hubungan antara Vitremer dalam perbandingan bubuk/cairan 1:2, dan primer menghasilkan nilai retensi sebesar 59% dan 36%, masing-masing pada periode 6 dan 12 bulan. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan nilai yang diperoleh dalam penelitian ini (yaitu, 30% dan 12%) pada periode evaluasi yang sama, mungkin disebabkan oleh tingginya proporsi bubuk yang digunakan dan ketrampilan operator dalam penggunaan berbagai macam evaluasi klinis. Dengan perbandingan bubuk/cairan 1:3, Villela menemukan nilai retensi yang sama pada periode 6 dan 12 bulan, yang lebih tinggi dibandingkan hasil penelitian ini. Namun, dalam penelitian tersebut, para peserta berusia lebih tua dan gigi-geligi yang ditumpat adalah gigi premolar, yang terbukti memiliki angka retensi lebih tinggi dibandingkan dengan gigi molar karena bentuk anatomi permukaan oklusal dan lokasinya dalam rongga mulut, dimana gigi premolar memperoleh tekanan mastikasi yang lebih ringan.
Evaluasi retensi juga dilakukan dengan membandingkan 3 area pada permukaan oklusal (mesial-oklusal, sentral-oklusal, dan distal-oklusal) untuk mendeteksi area yang memiliki adhesi terburuk. Setelah 12 bulan, Valsecki dkk memperoleh nilai retensi total sebesar 83% untuk Delton, dalam penelitian ini, hasil yang sama diperoleh dari grup 2. Meskipun memiliki nilai retensi terkecil di daerah distal, penelitian ini tidak dapat mendeteksi perbedaan yang signifikan. Bahkan, retensi terendah yang ditemukan dalam penelitian ini adalah pada area DO dan MO, pada kedua periode evaluasi. Harus ditekankan bahwa observasi ini dilakukan pada berbagai area dan menemukan keberhasilan (TR) dan kegagalan (PR/L) pada semua kelompok. Untuk gigi yang sedang erupsi, kontrol kelembaban di area DO paling sulit dilakukan, dan MO adalah area yang pertama kali berkontak dengan gigi antagonisnya. Jadi, aspek ini menjelaskan retensi yang terjadi. CO adalah area yang paling terlindungi dari kontak oklusal dan kontaminasi, dan karena memiliki ketebalan bahan yang lebih besar, jumlah sealant yang larut lebih sedikit.
Dalam penelitian ini, angka retensi grup 4 pada ketiga area adalah 69% pada periode 12 bulan, lebih tinggi dibandingkan presentase sebesar 50% yang diperoleh dalam penelitian lainnya, yang mengaplikasikan bahan dan teknik yang sama, hanya memiliki perbedaan dalam hal usia peserta. Jadi, selisih nilai retensi yang ditemukan mungkin berhubungan dengan ketrampilan dan pengalaman klinis operator.
Beberapa penelitian laboratorium yang mengevaluasi Vitremer dengan rasio 0,25:1 menunjukkan aspek-aspek menarik dalam konsistensi tersebut. Dengan menggunakan proporsi tersebut atau yang direkomendasikan oleh pabrik, penetrasi Vitremer ke dalam fissure, serta microleakage marginal, adalah sama. Aspek lain yang harus dipertimbangkan adalah pelepasan fluorida. Telah dibuktikan bahwa campuran Vitremer dengan rasio 0,25:1 melepaskan fluorida dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan penggunaan bahan sesuai indikasi pabrik (1:1). Meskipun hasil penelitian klinis dan laboratorium tersebut masih membutuhkan konfirmasi lebih lanjut, mereka menunjukkan bahwa Vitremer merupakan salah satu alternatif yang tepat sebagai bahan tumpatan, sehingga aplikasinya pada anak-anak bertambah.
Penemuan karies dalam penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian terdahulu yang tidak menemukan perbedaan signifikan antara sealant glass ionomer dan resin-based. Hanya pada periode 12 bulan ditemukan karies pada 7 gigi, dimana 5 diantaranya ditumpat dengan sealant resin-based dan 2 gigi ditumpat dengan primer dan Vitremer (0,25:1). Mungkin, hasil dalam grup 5 berhubungan dengan nilai retensi terendah.
Seperti yang ditemukan oleh Winkler dkk, jenis kegagalan yang terjadi dalam penggunaan tumpatan resin-based dan glass ionomer berbeda-beda. Sealant resin-based terlihat terlepas dalam bentuk potongan, yang meninggalkan iregularitas. Sebaliknya, resin-modified GIC tidak mengalami iregularitas marginal namun mengalami keausan secara berlebihan. Hal ini disebabkan oleh ketahanan fraktur dan kecepatan keausan akibat sikat gigi atau tekanan gesekan bahan resin-modified GIC lebih besar dibandingkan dengan sealant resin.
Diskolorisasi marginal pada sealant resin-modified glass ionomer ditandai dengan kontur yang lebih cerah/muda. Warna gelap (A3) dan waktu pengeringan yang berlebihan digunakan dalam pemeriksaan klinis, hal ini mungkin mempengaruhi klasifikasi tersebut.
Perubahan tektur superfisial terbesar juga ditemukan pada resin-modified GIC. Karakteristik bahan ini, seperti porositas dan protrusi partikel kaca, berperan dalam kekasaran bahan. Untuk diskolorisasi superfisial, grup 1 memiliki jumlah terbanyak gigi yang mengalami perubahan. Meskipun kelompok lainnya juga mengalami perubahan marginal dan superfisial, tumpatan tidak mengalami kerusakan.
Beberapa penelitian klinis menggunakan GIC sebagai sealant menunjukkan bahwa retensi sempurna tidak dibutuhkan untuk pencegahan karies. Meskipun, dilaporkan bahwa fissure yang ditumpat menggunakan glass ionomer lebih resisten terhadap demineralisasi in vitro dibandingkan dengan fissure yang tidak ditumpat, meskipun tampilan klinisnya telah hilang, akan menarik jika menyelidiki apakah bahan mampu memperoleh retensi sempurna. Resin-modified GIC yang digunakan sebagai sealant mampu berperan sebagai suatu barier fisik. Ditemukan peningkatan retensi yang signifikan, setelah dilakukan etsa asam email sebelum aplikasi semen, hal ini mengkonfirmasi data penelitian ini.
Secara umum, nilai retensi sealant dievaluasi setelah satu kali aplikasi, dan aplikasi-ulang tidak dinyatakan sebagai kasus retensi parsial bahan. Namun, pada anak-anak yang beresiko-karies tinggi, perbaikan sealant harus dilakukan jika terjadi kehilangan retensi parsial atau secara keseluruhan.
Pada periode 12 bulan, tidak ada gigi (Tabel 1) dan hanya beberapa area gigi (Tabel 2) yang mengalami kehilangan seluruh tumpatan sealant-nya. Jika mempertimbangkan hasil tersebut, semua teknik dinyatakan efektif, sesuai dengan protokol klinis periode pemeriksaan sealant. Dibutuhkan lebih banyak penelitian klinis longitudinal untuk membandingkan berbagai jenis bahan sealant dalam mencegah karies. GIC—terutama resin-modified GIC yang memiliki resistensi abrasi, adhesi pada fissure gigi, nilai retensi dan sifat kariostatik yang lebih baik—merupakan salah satu alternatif tumpatan sealant yang menarik.

KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa resin-modified glass ionomer cement dapat menjadi salah satu alternatif yang efisien dan menjanjikan sebagai bahan sealant oklusal, meskipun dibutuhkan lebih banyak penelitian jangka panjang. Vitremer dengan perbandingan bubuk/cairan yang normal (1:1) memiliki sifat retensi yang lebih baik dibandingkan dengan Delton dan isolasi menggunakan cotton roll, dengan atau tanpa bonding agent. Prime & Bond 2:1 yang digunakan sebagai lapisan intermediet tidak meningkatkan angka retensi Delton. Lesi karies ditemukan pada beberapa gigi, namun tidak ditemukan selisih yang signifikan pada setiap kelompok. Meskipun ditemukan perubahan superfisial dan marginal pada semua kelompok, secara klinis, tumpatan sealant masih cukup baik setelah periode 12 bulan.


Read more...

Berhitung!

Pasang Aku Yaa

go green indonesia!
Solidaritas untuk anak Indonesia

  © Blogger templates Newspaper III by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP