Showing posts with label Terjemahan Jurnal Bedah Mulut. Show all posts
Showing posts with label Terjemahan Jurnal Bedah Mulut. Show all posts

25 August 2010

Gigi Molar Tiga Mesioanguler – Harus Dicabut atau Tidak?

Abstrak
Pendahuluan: Karies distal pada gigi molar dua rahang bawah dapat disebabkan oleh gigi molar tiga mesioanguler. Deteksi karies dan restorasi sulit dilakukan. Jika karies berkembang, perawatan saluran akar gigi molar dua perlu dilakukan. Tujuan: Untuk mengidentifikasi prevalensi karies pada gigi molar tiga rahang bawah dan aspek distal gigi molar dua tetangganya pada pasien yang dirujuk untuk menjalani pemeriksaan gigi molar tiga. Metode: Analisis sinar-x OPG pada 420 pasien [776 gigi molar tiga] yang dirujuk ke tiga rumah sakit maksilofasial dalam periode 5 bulan. Hasil: Tiga puluh empat persen gigi molar tiga terletak mesioanguler. Diperoleh gambaran radiografis karies distal gigi molar dua pada 42% diantaranya. Jika molar tiga mesioanguler tidak erupsi dieksklusikan, maka jumlahnya bertambah menjadi 54%. Tidak ada perbedaan usia atau kesehatan gigi-geligi pasien tersebut dibandingkan dengan kelompok keseluruhan. Tidak ada kecenderungan angulasi mesioanguler gigi molar tiga yang menyebabkan karies pada gigi molar dua. Kesimpulan: Karies gigi molar dua rahang bawah akibat gigi molar tiga yang terletak mesioanguler umum ditemukan pada pasien oral dan maksilofasial di rumah sakit sekunder, terutama jika gigi molar tiga erupsi total atau parsial. Jika gigi molar semacam itu dibiarkan pada tempatnya [in situ], dianjurkan untuk melakukan monitoring dan pemeriksaan radiograf bitewing secara rutin.
Sumber: British dental journal, 2009; 206: E23.

PENDAHULUAN
Gigi molar tiga mesioanguler yang erupsi parsial atau total diimplikasikan dalam perkembangan karies pada aspek distal gigi molar dua tetangganya. Dahulu, pencabutan profilaktik sering dilakukan namun banyak penelitian yang menunjukkan bahwa tidak ada bukti yang cukup untuk mendukung penanganan semacam itu. Pada tahun 2000 diperkenalkan pedoman dari the National Institute for Clinical Excellence dan kini digunakan di Inggris dan Wales. Dengan adanya pedoman tersebut banyak gigi molar tiga mesioanguler yang tidak dicabut dan dibiarkan sampai usia lanjut.
Karies distal pada gigi molar dua lebih sulit dideteksi secara klinis jika gigi molar tiga terletak mesioanguler. Jika lesi tersebut tetap tidak terdeteksi maka akan berkembang, pada akhirnya dibutuhkan perawatan saluran akar atau pencabutan gigi molar dua [Gambar 1]. Sehingga klinisi dihadapkan pada suatu dilema. Haruskah kita mencabut gigi molar tiga mesioanguler jika tidak ada penyakit apapun, yang dapat mengakibatkan trauma pembedahan dan resiko-resiko lainnya? Atau kita hanya perlu mengawasi pasien ini, menerima resiko karies pada gigi molar dua dan kebutuhan restorasi, perawatan saluran akar atau pencabutan gigi molar dua jika pengawasan klinis atau tingkat kooperatif pasien kurang optimal?
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi prevalensi karies gigi molar tiga dan molar dua tetangganya pada pasien yang dirujuk ke bagian oral dan maksilofasial. Kami juga berusaha mengidentifikasi apakah karies cenderung terjadi dalam kisaran angulasi tertentu pada gigi molar tiga mesioanguler.

METODE
Dilakukan penelitian pendahuluan selama 2 bulan pada tahun 2007 di bagian oral dan maksilofasial rumah sakit umum daerah Surrey [Rumah Sakit A]. hasilnya ditampilkan dalam audit regional lokal dan rumah sakit-rumah sakit lainnya diundang untuk mengikuti penelitian yang lebih besar. Maka direkrut dua bagian oral dan maksilofasial lagi dari rumah sakit umum daerah yang ada di sekitar Surrey [yaitu, Rumah Sakit B dan C].
Satu orang klinisi dari setiap unit peserta dialokasikan sebagai kepala pengambilan data di unit tersebut. Pengambilan data dimulai pada 1 Februari 2008 dan diakhiri pada 30 Juni 2008. Data diambil dari setiap pasien baru yang dirujuk ke bagian tersebut untuk menjalani pemeriksaan salah satu atau kedua gigi molar tiga rahang bawah. Status erupsi dicatat saat konsultasi. Semua data lainnya diambil setelah analisis radiografi OPG pasien. Jika gigi molar tiga berdiri sendiri [tidak ada gigi molar dua tetangganya], maka gigi tersebut dieksklusikan dari penelitian. Rumah sakit A dan C menggunakan sistem digital ‘PACS’ X-ray, sedangkan Rumah sakit B memanfaatkan tipe “hard copy” tradisional.
Pada setiap pasien, dilakukan pencatatan data-data berikut ini:
• Nomor rumah sakit
• Usia pasien saat berkonsultasi
• Skor DMFT [decayed, missing, filled teeth] ditentukan dengan menganalisis semua gigi kecuali gigi molar tiga. Gigi yang mengalami karies, dicabut karena alasan non-ortodontik, atau ditumpat diberi skor 1. Skor DMFT digunakan sebagai langkah dasar untuk menganalisis kesehatan gigi-geligi secara keseluruhan pada subyek tersebut. Jika hanya terdapat lesi karies distal pada gigi molar dua rahang bawah, gigi tersebut diberi skor nol. Karena kami mencari kekhasan pada lesi ini, langkah ini mempermudah pembandingan kesehatan gigi-geligi para pasien dengan dan tanpa karies distal pada gigi molar dua.
• Status erupsi setiap gigi molar tiga rahang bawah yang ada, apakah erupsi total, sebagian, atau tidak erupsi.
• Angulasi gigi molar tiga yang ditentukan menggunakan Winter’s classification.
• Gambaran radiografis karies atau restorasi pada gigi molar tiga rahang bawah.
• Gambaran radiografis karies atau restorasi pada aspek distal gigi molar dua rahang bawah.
• Pada semua gigi molar tiga rahang bawah yang diklasifikasikan sebagai mesioanguler, dilakukan pencatatan angulasi gigi molar tiga rahang bawah. Yang didefinisikan sebagai sudut yang dibentuk oleh pertemuan garis melalui bidang oklusal gigi molar tiga dan bidang oklusal mandibula seperti yang ditampilkan dalam Gambar 2. Karena ketajaman sinar-x OPG terkadang kurang, sudut tersebut dihitung sampai lima derajat terdekat.

Setelah analisis radiografi, data yang diambil dari setiap rumah sakit diperiksa oleh salah satu klinisi lain yang ikut serta dalam penelitian. Semua gambaran radiografi gigi molar tiga yang dinyatakan sebagai mesioanguler dianalisis-ulang oleh klinisi kedua yang difokuskan pada keberadaan karies dan angulasi gigi molar tiga. Jika terjadi ketidaksesuaian tentang keberadaan karies, gambaran radiografi dianalisis kembali oleh kedua klinisi. Jika tidak diperoleh kesepakatan tentang ada atau tidaknya karies, pasien dieksklusikan dari penelitian. Nilai akhir angulasi gigi molar tiga dihitung sebagai rata-rata nilai yang dicatat oleh kedua pemeriksa.
Semua analisis dilakukan oleh klinisi yang bekerja penuh atau paruh-waktu di bagian oral dan maksilofasial. Analisis di Rumah sakit A dilakukan oleh dua orang staf. Analisis di Rumah sakit B dilakukan oleh satu orang dokter ahli dan satu orang staf. Analisis di Rumah sakit C dilakukan oleh pegawai senior dan seorang staf.
Semua hasilnya dimasukkan ke dalam database dan data dipindahkan ke SPSS versi 12.0.01 [SPSS Inc.] untuk dianalisis. Variabilitas antar-pemeriksa dihitung menggunakan Cohen’s kappa statistic. Hubungan antar variabel diselidiki menggunakan uji chi-square dan dilakukan penghitungan odd ratio.

HASIL
Data diambil dari 439 pasien selama 5 masa pengambilan data. Sembilan belas pasien dieksklusikan karena gambaran radiografisnya tidak tersedia, jadi dilakukan analisis pada 420 pasien; 213 dari Rumah sakit A, 118 dari Rumah sakit B, dan 89 dari Rumah sakit C.
Setelah analisis oleh dua orang klinisi, terjadi perbedaan opini tentang keberadaan karies pada 34 kasus. Namun, tingkat kesepakatan antar pemeriksa dinyatakan baik. Untuk karies pada gigi molar tiga, tingkat kesesuaiannya adalah  = 0,85 [CI 95% 0,78-0,92] dan untuk karies distal gigi molar dua  = 0,86 [CI 95% 0,80-0,92]. Jika analisis gambaran radiografi oleh kedua pemeriksa menimbulkan perbedaan opini, maka dicari opini yang sama pada semua kasus.
Median usia pasien adalah 28 tahun [kisaran 14-88, SD = 11,0] dan median skor DMFT adalah 5 [kisaran 0-27, SD = 4,9]. Karena sebagian besar pasien memiliki dua gigi molar tiga yang telah erupsi, total gigi molar tiga yang dianalisis adalah 776. Dari jumlah tersebut, 136 gigi dinyatakan tidak erupsi, 493 dinyatakan erupsi sebagian, dan 147 gigi dinyatakan erupsi sempurna.
Frekuensi angulasi Winter diuraikan dalam Tabel 1. Tidak ada perbedaan usia pasien pada keempat kelompok.
Secara keseluruhan, 183 dari 776 gigi molar tiga rahang bawah [23,6%] mengalami karies. Karies distal pada gigi molar dua ditemukan pada 150/776 gigi [19,3%]. Gambar 3 menunjukkan prevalensi karies pada gigi molar tiga rahang bawah terhadap angulasi Winter dan Gambar 4 menunjukkan prevalensi karies pada aspek distal gigi molar dua rahang bawah terhadap angulasi Winter.
Karies gigi molar tiga memiliki hubungan yang bermakna dengan gigi molar tiga mesioanguler [X2(1) = 7,2; p < 0.007]. Hal ini merefleksikan fakta bahwa 29% kelompok mesioanguler mengalami karies pada gigi molar tiga rahang bawah dibandingkan dengan 21% dalam kelompok lain secara kombinasi. Odd ratio menunjukkan bahwa gigi molar tiga mesioanguler memiliki kecenderungan 1,6 kali lipat untuk mengalami karies dibandingkan kelompok lain secara kombinasi.
Karies distal pada gigi molar dua juga memiliki hubungan yang signifikan dengan gigi molar tiga mesioanguler [X2(1) = 138,0; p < 0.0001]. Pada kelompok mesioanguler, 42% diantaranya mengalami karies distal pada gigi molar dua sulung dibandingkan dengan 7% kelompok lain secara kombinasi. Odd ratio menunjukkan bahwa gigi molar tiga mesioanguler memiliki kecenderungan 9,4 kali lipat untuk mengalami karies distal pada gigi molar dua dibandingkan dengan kelompok lain secara kombinasi.
Jika melihat secara spesifik pada gigi-geligi mesioanguler, terdapat 267 gigi yang dianalisis, 74 [28%] diantaranya dinyatakan tidak erupsi, 176 [66%] erupsi sebagian, dan 17 [6%] erupsi sempurna. Dari 78 kasus karies pada gigi molar tiga, median usia adalah 28 tahun [kisaran 18-57, SD = 7,5] dan median DMFT adalah 5 [kisaran 0-16, SD = 3,4]. Dari 113 kasus karies pada aspek distal gigi molar dua tetangga, median usia adalah 28 tahun [kisaran 16-64, SD = 8,5] dan median DMFT adalah 5 [kisaran 0-16, SD = 3,8]. Hal ini menunjukkan tidak ada perbedaan usia atau DMFT pasien yang mengalami karies pada aspek distal gigi molar dua atau molar tiga rahang bawah dibandingkan dengan gigi-geligi molar tiga secara keseluruhan.
Jika angulasi gigi molar tiga dipertimbangkan dan dibagi menjadi beberapa kelompok dengan interval 15 derajat, kami tidak menemukan perbedaan karies pada gigi molar tiga atau aspek distal gigi molar dua dia antara kelompok-kelompok tersebut [lihat Gambar 5 dan 6].
Status erupsi gigi molar tiga dinyatakan berhubungan dengan prevalensi karies pada gigi molar tiga dan aspek distal gigi molar dua. Satu persen gigi molar tiga mesioanguler yang tidak erupsi, 38% yang erupsi sebagian, dan 59% yang erupsi sempurna mengalami karies. Terjadi karies distal gigi molar dua pada 11% gigi molar tiga mesioanguler yang tidak erupsi, 55% erupsi sebagian, dan 53% erupsi sempurna. Karena prevalensi karies pada kelompok gigi yang tidak erupsi rendah, jika kami mengeksklusikan gigi-geligi yang tidak erupsi, prevalensi karies pada gigi molar tiga adalah 77 dari 193 gigi [40%] dan prevalensi karies pada aspek distal gigi molar dua adalah 105 dari 193 gigi [54%].

PEMBAHASAN
Telah dilaporkan bahwa pemilihan sampel populasi untuk analisis gigi molar tiga sulit dilakukan karena dibutuhkan sampel random populasi umum dan secara etis, pemeriksaan radiografi pada individu semacam itu meragukan. Kami menerima bahwa sampel ini memiliki bias karena sebagian besar pasien dirujuk oleh dokter gigi umum, yang cenderung menemukan kondisi patologis.
Usia populasi penelitian sama dengan penelitian-penelitian lainnya kecuali untuk grup horisontal, yang lebih sedikit dalam penelitian kami. Jika menggabungkan semua radiograf, prevalensi karies distal pada gigi molar dua adalah 19,3%, yang lebih besar dibandingkan dalam penelitian di Turki [12,6%], Swedia [13%], dan Thailand [13%] namun lebih sedikit dibandingkan dengan sampel Amerika [26%] dan Yordania [21,5%].
Dari hasil penelitian kami terlihat jelas bahwa karies distal pada gigi molar dua yang disebabkan oleh gigi molar tiga mesioanguler adalah salah satu masalah di Surrey. Jika mempertimbangkan unit-unit yang berpartisipasi secara keseluruhan, 113 dari 267 gigi-geligi mesioanguler mengalami karies pada aspek distal gigi molar dua tetangganya, nilai tersebut sama dengan 5 gigi per minggu selama penelitian. Kami menunjukkan bahwa jika mempertimbangkan secara keseluruhan akan terlihat banyak gigi molar dua rahang bawah yang membutuhkan restorasi, perawatan saluran akar, atau pencabutan karena keberadaan gigi molar tiga mesioanguler. Hal ini mengganggu kesehatan umum pasien serta finansial pasien dan pelayanan kesehatan.
Penelitian lainnya menunjukkan bahwa karies distal pada gigi molar dua adalah penyakit yang dialami oleh pasien dewasa. McArdle dan Renton menemukan median usia pasien yang mengalami karies servikal pada aspek distal gigi molar dua adalah 30 tahun dan skor DMFT-nya mencapai separuh skor rata-rata populasi umum pada berbagai kelompok usia. Mereka juga menemukan bahwa 82% gigi molar tiga mesioanguler yang menyebabkan karies servikal distal memiliki angulasi antara 40 sampai 80 derajat. Kami tidak menemukan perbedaan usia pasien yang memiliki gigi molar tiga mesioanguler dan mengalami karies distal pada gigi molar dua, jika dibandingkan dengan kelompok-kelompok lain secara keseluruhan [median usia kedua kelompok adalah 28]. Kami juga tidak menemukan perbedaan skor DMFT antara kedua kelompok [median skor pada kedua kelompok adalah 5]. Jumlah sampel yang besar dan fakta bahwa populasi penelitian adalah pasien di Surrey, diduga mempengaruhi perbedaan tersebut. Kami juga menganalisis semua lesi karies, sedangkan McArdle dan Renton hanya menyelidiki pasien-pasien yang harus menjalani pencabutan gigi akibat karies distal. Kami menemukan 73% kasus karies distal pada gigi molar dua yang disebabkan oleh keberadaan gigi molar tiga mesioanguler yang memiliki angulasi 30-75 derajat, namun karies juga banyak ditemukan pada kelompok lain. Tidak mungkin mengidentifikasi angulasi yang cenderung menyebabkan karies.

KESIMPULAN
Para peneliti setuju dengan pedoman NICE, dimana semua gigi molar tiga yang tidak erupsi, erupsi sebagian ataupun erupsi sempurna yang dinyatakan berada pada posisi vertikal, horisontal, ataupun distoanguler harus dibiarkan pada tempatnya [in situ], karena bebas patologi dan ejala. Namun, kami menduga bahwa gigi molar tiga mesioanguler yang erupsi sebagian atau sempurna dan berdekatan dengan gigi molar dua rahang bawah membutuhkan perhatian khusus. Penelitian kami menunjukkan bahwa prevalensi pasien yang dirujuk karena karies distal pada gigi molar dua cukup tinggi dimana terdapat gigi molar tiga mesioanguler yang erupsi sebagian atau sempurna. Kami menyatakan bahwa dengan pengawasan cermat, lesi-lesi tersebut dapat dirawat lebih dini, sehingga gigi molar tiga mesioanguler perlu dicabut dan merestorasi gigi molar dua. Namun menurut pengalaman kami, pasien-pasien semacam ini cenderung mengalami lesi karies parah yang pada akhirnya sulit direstorasi. Dokter gigi umum enggan melakukan restorasi gigi-geligi tersebut sampai gigi molar tiga penyebabnya dicabut, hal ini mengakibatkan perkembangan lesi lebih lanjut selama pasien menunggu pembedahan. Pencabutan gigi molar tiga bukanlah tidak beresiko, yang terkadang signifikan. Namun, kami menduga bahwa gigi molar tiga mesioanguler yang erupsi sebagian atau sempurna yang memiliki kemungkinan menimbulkan karies pada gigi molar dua harus dibahas sebagai proses consent/perijinan. Jika gigi tersebut dibiarkan in situ, pentingnya monitoring, radiografi bitewing rutin, instruksi oral higiene, dan anjuran preventif harus ditekankan kepada dokter gigi umum dan pasien. Jika pasien dan klinisi memutuskan untuk mencabut gigi molar tiga, pedoman NICE tidak mendukung tindakan tersebut. Kami menyatakan bahwa dalam sudut pandang tersebut, penelitian kami memiliki kelemahan dan dibutuhkan penelitian nasional yang lebih besar. Selain itu juga dibutuhkan penelitian lebih lanjut tentang nasib gigi molar tiga mesioanguler, serta menyelidiki perilaku dokter gigi umum dalam merestorasi gigi-geligi tersebut.

Read more...

17 March 2010

Penanaman Implan Immediate Dalam Soket Pencabutan Baru: Laporan Klinis

Abstrak
Tujuan: Untuk menyelidiki hasil penanaman implan dalam soket pencabutan yang masih baru serta pemanfaatan bahan cangkok tulang khusus. Bahan dan Metode: Penelitian ini dilakukan pada para pasien yang dirujuk ke klinik bedah maksilofasial untuk menjalani pencabutan dan terapi implan. Beberapa pasien yang dinyatakan layak menjalani penanaman implan immediate serta pencabutan diikutsertakan dalam pembedahan implan. Pasien yang mengalami proses inflamasi, eksaserbasi tidak diikutsertakan. Ruang antara implan dan soket gigi diisi dengan bahan cangkok tulang autolog. Prosedur pembedahan dua-tahap direncanakan untuk mengoptimalkan penyembuhan tulang marginal. Hasil: Empat puluh implan ditanamkan dalam soket pencabutan yang masih baru pada 26 pasien [9 perempuan dan 17 laki-laki] yang berusia rata-rata 60 tahun [kisaran 19 sampai 76 tahun]. Daerah yang paling sering dipasangkan implan adalah regio anterior rahang atas. Bahan cangkok tulang autolog digunakan dalam semua kasus untuk mengisi ruang antara implan dan batas soket. Semua implan telah mengalami osseointegrasi saat abutmen dipasangkan. Tidak terjadi komplikasi. Pemeriksaan radiografik hanya menunjukkan reduksi tulang marginal sebanyak 0,13 mm pada aspek mesial dan 0,19 mm pada aspek distal. Kesimpulan: Implan berhasil ditanamkan dalam soket pencabutan baru menggunakan bahan cangkok tulang autolog untuk mengisi celah antara implan dengan tulang labial melalui teknik pembedahan submerged. Teknik ini menunjukkan hasil klinis dan radiografik yang baik selama periode 2 tahun pada 26 pasien yang dipasangkan 40 implan.
Kata Kunci: Bahan cangkok tulang [bone graft], soket pencabutan, penanaman immediate, pembedahan implan.
Sumber: Int J Oral Maxillofac Implant 2009; 24: 283-8.


Penanaman implan dalam soket pencabutan yang masih baru sering dilakukan, dan protokol pembedahan telah dimodifikasi, kepercayaan bahwa dibutuhkan regenerasi total tulang dalam soket sebelum penanaman implan, berubah menjadi anggapan bahwa metode terbaik untuk memelihara tulang adalah penanaman implan immediate. Beberapa literatur melaporkan keberhasilan penanaman implan immediate. Dalam penelitian retrospektif yang dilakukan oleh Wagenberg dan Froum menemukan banyak pasien yang memiliki tingkat keberhasilan 96%; namun, tidak dilakukan penilaian status tulang marginal.
Manfaat pengisian ruang diantara implan dan batas soket menggunakan bahan cangkok tulang [bone graft] masih diperdebatkan [Gambar 1a-c]. Meskipun patologi yang menghubungkan antara pencabutan dengan periodontitis atau osteitis kronis dapat membatasi indikasi penanaman implan immediate, ada perbedaan antara proses inflamasi kronis jangka panjang dengan inflamasi akut yang disertai eksaserbasi, seperti pembengkakan, pembentukan fistula, dan supurasi. Konsep yang mendukung penanaman implan immediate untuk mempertahankan tinggi tulang alveolar dan menghindari reduksi tulang marginal yang biasanya terjadi setelah soket pencabutan sembuh. Implan dijangkarkan pada bagian kecil soket, terutama pada tulang alveolar subapikal, sehingga menghasilkan stabilitas implan awal yang memuaskan. Normalnya, perlakuan yang diberikan pada daerah implan antara lain irigasi dan pembersihan luka, untuk menghilangkan elemen-elemen inflamasi yang potensial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengamati pemulihan tulang setelah penanaman implan immediate ke dalam soket pencabutan yang masih baru, melalui pemeriksaan klinis dan radiografi terstandardisasi, selama periode 2 tahun lebih sesuai dengan protokol rutin.

BAHAN DAN METODE
Penelitian ini diikuti oleh para pasien yang dirujuk ke Klinik Oral dan Maksilofasial, Institute of Odontology, Gothenburg, Swedia, untuk menjalani pencabutan dan rehabilitasi implan. Inflamasi yang disertai dengan eksaserbasi merupakan indikasi eksklusi dari penelitian ini, namun kondisi inflamasi kronis tidak dikontraindikasikan.
Pencabutan dilakukan seatraumatis mungkin tanpa merusak tulang marginal. Implan [Astra Tech TiOblast ST Implants, Astra Tech, MöIndal, Swedia] ditanamkan pada aspek palatal [rahang atas] atau lingual [rahang bawah] soket. Protokol yang digunakan adalah pembedahan dua-tahap yang disertai dengan penjahitan flap di atas implan dan soket setelah celah antara implan dan batas soket diisi menggunakan bahan cangkok tulang. Bahan cangkok tulang diperoleh secara lokal atau menggunakan Bone Trap [Astra Tech AB, MöIndal, Swedia], yaitu suatu kolektor tulang akrilik yang dihubungkan dengan alat suction/penghisap khusus. Pemeriksaan radiografik terstandardisasi dilakukan menggunakan peralatan Eggen [Eggen X-ray, Lillehammer, Norwegia] pasca operasi serta 6 bulan, 1 tahun, 2 tahun berikutnya. Periode penyembuhan diperkirakan terjadi selama 6 bulan. Pasien dibuatkan gigitiruan sementara untuk dipakai selama periode penyembuhan. Untuk mengamati penyembuhan tulang marginal pada aspek bukal dan lingual soket, dilakukan pemeriksaan visual 6 bulan setelah pembedahan pemasangan abutmen.
Penanaman implan yang dilakukan sesuai dengan protokol standar menurut Astra Tech manual [Gambar 2 & 3]. Pada awalnya, semua implan dinyatakan stabil, dengan penjangkaran pada prosesus alveolar pada bagian koronal soket pencabutan. Semua implan ditanamkan pada aspek palatal soket. Ukuran implan yang digunakan disesuaikan dengan lokasi soket. Implan Astra TiOblast ST [4,5 mm] paling sering digunakan karena implan berbentuk konis/kerucut, sesuai untuk tulang marginal [Gambar 3a & 3b]. untuk soket-soket yang berukuran kecil, seperti pada regio gigi insisivus rahang bawah, digunakan implan standar berukuran 2,4 mm. Bahan cangkok tulang, yaitu Bone Trap, diaplikasikan untuk mengisi ruang [Gambar 2a & 2d]. Pada daerah-daerah dimana tulang marginal mengalami kerusakan parsial, digunakan bahan cangkok tulang untuk memperbaiki daerah defektif [Gambar 3c]. Semua pasien menjalani prosedur pembedahan dua-tahap disertai penjahitan primer pada daerah pembedahan dan abutmen dipasangkan 6 bulan kemudian. Pemasangan abutmen dilakukan melalui elevasi/pembukaan flap minimal, sehingga dokter bedah dapat memeriksa tinggi tulang marginal di sekitar implan [Gambar 2e & 2f]. Dalam semua kasus, digunakan healing abutment sehingga ahli prostodonsi dapat memilih abutmen yang sesuai sebagai restorasi definitif [Gambar 2g & 3d].
Dilakukan radiograf intraoral menggunakan teknik terstandardisasi segera setelah operasi dan pada 6 bulan, 1 tahun, dan 2 tahun berikutnya. Radiograf dianalisis pada layar pembesar dan tinggi tulang marginal interproksimal setiap implan diukur menggunakan kaliper sebanyak 2 kali. Tinggi tulang marginal diukur pada permukaan distal dan mesial setiap implan, yaitu jarak antara titik referensi implan dengan crest tulang. Titik referensi diukur pada radiograf yang diambil segera setelah operasi, titik ini menjadi dasar perubahan tinggi tulang. Pengukuran dilakukan pada dua interval waktu oleh dua pengamat independen [Gambar 4 & 5].
Evaluasi klinis dilakukan bersamaan dengan evaluasi radiografik untuk mengetahui tanda-tanda inflamasi gingiva dan stabilitas implan. Kedalaman poket di sekitar restorasi implan juga diperiksa.
Indikasi pencabutan gigi-geligi yang digunakan dalam penelitian ini adalah fraktur akar atau resorpsi akar internal dan eksternal [Tabel 1]. Pencabutan melalui pembedahan dilakukan seatraumatis mungkin untuk memelihara tulang marginal. Saat dilakukan prosedur pembedahan pemasangan abutmen, jaringan gingiva dipindahkan dari sisi palatal untuk mempermudah restorasi estetis implan.

HASIL
Penelitian ini diikuti oleh 26 pasien [9 perempuan dan 17 laki-laki]. Usia rata-rata para pasien adalah 60 tahun [kisaran, 19 sampai 76 tahun]. Penanaman implan immediate paling sering dilakukan di zona estetik, yaitu regio anterior rahang atas diantara kedua gigi kaninus. Terkadang ditanam di regio posterior rahang atas dan anterior rahang bawah. Dipasangkan 35 Astra Tech TiOblast ST implan berdiameter 4,5 mm dan 5 mm. Pada lima daerah, digunakan implan Astra TiOblast standar berukuran 4 mm dan 3,5 mm tanpa microthread.
Selama periode penelitian, tidak ada implan yang dinyatakan gagal. Semua implan mengalami osseointegrasi tepat waktu saat pemasangan abutmen. Tinggi tulang marginal, yang diperiksa selama pembukaan flap terbatas saat abutmen dipasangkan, terletak di atas atau dekat dengan screw penutup. Pada zone estetis, digunakan healing abutment. Tidak ditemukan komplikasi klinis. Waktu antara pemasangan abutmen dan restorasi definitif berkisar antara 5 hari sampai 2 minggu. Restorasi mahkota-tunggal pada zona estetis dibuat dari mahkota keramik-emas atau restorasi resin akrilik-emas.
Pada semua kasus, pembedahan untuk membuka-kembali regio pencangkokan menunjukkan terjadinya penyembuhan tulang pada batas screw penutup. Meskipun pada daerah-daerah yang mengalami kehilangan tulang marginal lokal akibat trauma, seperti fraktur akar atau resorpsi, proses penyembuhan terjadi dengan baik di sepanjang permukaan implan dimana bahan cangkok tulang ditanamkan. Garis insisi penghubung abutmen selalu dibuat mendekati aspek palatal crest agar diperoleh jaringan lunak yang cukup untuk koreksi estetik.
Pada semua pasien, hasil klinisnya dinyatakan memuaskan. Selama periode follow up, pemeriksaan radiografik menunjukkan sedikit reduksi tulang marginal. Karena sebagian besar pasien [n = 35] dipasangkan implan ST [4,5 atau 5 mm], bukan implan TiOblast standar [n = 5], dari sudut pandang ilmiah, perbandingan statistik dinyatakan tidak valid. Namun, hasilnya dapat dilihat sebagai indikasi penggunaan implan yang memiliki microthread dimana thread diperluas di sepanjang leher implan: reduksi tulang marginal rata-rata pada implan ST setelah 6 bulan adalah 0,10 dan 0,15 mm, masing-masing, pada aspek mesial dan distal, sedangkan untuk implan standar yang berukuran kecil, reduksi terjadi sebanyak 0,6 mm. Setelah 1 tahun, reduksi yang terjadi pada implan ST adalah 0,12 mm dan 0,19 mm untuk implan standar, nilai rata-ratanya adalah 1,2 dan 0,7 mm. Gambaran tersebut tetap stabil selama 2 tahun follow up [yaitu, 0,13 mm/0,19 mm versus 1,2 mm/0,7 mm] [Tabel 2].
Pemeriksaan radiografik dan klinis menunjukkan situasi stabil setelah penanaman implan immediate menggunakan bahan cangkok tulang khusus sebagai bahan pengisi di antara soket dan implan. Perbaikan defek tulang marginal soket juga ditemukan. Dalam penelitian follow up 2 tahun ini, tidak ditemukan tanda-tanda retraksi gingiva pada semua daerah penanaman implan.

PEMBAHASAN
Remodelling crest alveolar setelah pencabutan memiliki suatu pola, yang disertai dengan resorpsi dan reshaping [pembentukan-ulang] crest alveolar. Resorpsi marginal ini tergantung pada waktu: semakin lama waktu penyembuhan, resorpsinya semakin banyak. Untuk mempertahankan tinggi tulang dan agar waktu rehabilitasi lebih singkat, kini, penanaman implan immediate pada daerah pencabutan sering dilakukan. Literatur menguraikan hasil positif dari prosedur ini dengan komplikasi yang sangat kurang. Beberapa penelitian eksperimental menunjukkan bahwa penyembuhan tulang dalam celah diantara implan dan soket tetap terjadi meskipun celahnya cukup besar, mencapai beberapa milimeter. Namun, jika tinggi tulang marginal berkurang akibat trauma, fraktur akar, atau distraksi tulang lokal lainnya, dianjurkan untuk menggunakan cangkok tulang atau biomaterial tulang, seperti Bio-Oss untuk membentuk kontur alveolar saat penanaman implan. Dalam penelitian ini, bahan cangkok tulang, sebagian besar berasal dari Bone Trap, digunakan untuk mengisi celah antara implan dan soket meskipun terdapat celah seluas 1 sampai 2 mm.
Resorpsi tulang yang substansial ditemukan saat penyembuhan soket. Penyembuhan tulang dan remodelling mempengaruhi permukaan luar dan dalam soket. Daerah edentulous akan menyusut dan tulangnya akan teresorbsi.
Penanaman implan dalam soket yang masih baru memiliki beberapa keuntungan. Pembedahan lebih sederhana dan insersi dapat diarahkan. Diduga, penanaman implan immediate dapat mencegah resorpsi tulang dan remodelling soket yang tidak diinginkan. Penanaman implan pada aspek palatal soket berperan penting untuk mencegah resesi gingiva.
Masalah lain yang dibahas dalam literatur adalah apakah celah antara implan dan soket perlu diisi. Jika terdapat celah antara implan dan soket lebih dari 1 mm, pembentukan jembatan tulang tidak akan sempurna atau tertunda, dan osseointegrasi akan terganggu. Beberapa penelitian eksperimental pada binatang percobaan membuktikan hipotesis tersebut. Jika dilakukan penanaman jenis bahan cangkok tulang yang berbeda-beda, dengan atau tanpa membran, disimpulkan bahwa biomaterial, seperti Bio-Oss dan hidroksiapatit, akan terjadi penyembuhan yang lebih baik. Penggunaan membran juga efektif jika terjadi dehisensi. Beberapa penelitian pada pasien yang menjalani prosedur pengisian bahan cangkok tulang pada soket penanaman implan menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan pasien yang tidak menjalani prosedur cangkok tulang. Dalam penelitian ini, dilakukan penanaman implan dan digunakan bahan cangkok tulang autolog. Saat pemasangan abutmen, permukaan tulang marginal dibuka dan diperiksa. Pada semua pasien, tinggi tulang marginal terletak di atas screw penutup dan terkadang, hampir menutupinya.
Dalam penelitian eksperimental dan klinis terbaru, penanaman implan immediate ke dalam soket pencabutan yang masih baru pada defek eksperimental manusia dan anjing, disimpulkan bahwa meskipun proses penyembuhan defek eksperimental memuaskan, penyembuhan terganggu jika implan ditanamkan pada soket pencabutan yang masih baru. Para peneliti menemukan banyak tulang marginal yang hilang, terutama pada aspek bukal, jika celah antara implan dan soket tidak diisi menggunakan bahan cangkok tulang.
Dalam penelitian ini, implan dan bahan cangkok tulang di sekitarnya menyatu selama proses penyembuhan. Penanaman immediate atau dini dapat dilakukan pada pasien-pasien yang memiliki stabilitas awal adekuat, namun untuk mengoptimalkan pemulihan tulang marginal, dilakukan pembedahan penanaman implan. Meskipun sedikit, ditemukan perbedaan pemeliharan tinggi tulang marginal pada kelompok yang memiliki leher implan non-thread. Implan kontemporer yang memiliki permukaan aktif dan microthread dapat mempertahankan tinggi tulang marginal yang memuaskan.

KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa selama 2 tahun pengamatan, penanaman implan immediate ke dalam soket pencabutan yang masih baru dengan memanfaatkan bahan cangkok tulang untuk menjembatani celah dan teknik pembedahan submerged memberikan hasil klinis dan radiografis yang memuaskan.

Read more...

12 August 2009

Komplikasi Langka Akibat Pembedahan Gigi Molar Tiga

Tujuan: Pencabutan gigi molar tiga merupakan prosedur pembedahan yang sering dilakukan. Komplikasi yang umum terjadi akibat pembedahan gigi molar tiga telah diketahui dan dijelaskan kepada pasien selama proses informed consent. Dokter gigi umum, serta dokter bedah mulut dan maksilofasial, harus mengetahui semua komplikasi yang mungkin terjadi. Tinjauan sistematis ini berperan sebagai pengingat komplikasi-komplikasi yang jarang terjadi dalam prosedur rutin tersebut. Bahan dan Metode: Penelitian dilakukan menggunakan pencarian sistematis dalam database elektronik Medline dan Cochrane Library, serta pencarian kata kunci, referensi, dan tinjauan tentang bidang yang relevan. Kata kunci yang digunakan antara lain third molar, wisdom tooth, complications, unusual, dan rare. Referensi dari artikel-artikel relevan juga diperiksa-ulang. Penelitian ini dibatasi hanya untuk artikel berbahasa Inggris atau Jerman yang diterbitkan dalam 18 tahun terakhir. Hasil: Komplikasi yang telah diketahui dan umum ditemukan antara lain kerusakan saraf permanen dan fraktur mandibular immediate atau late. Ditemukan 24 komplikasi lainnya dalam 22 artikel. Diantaranya adalah proses inflamasi, pembentukan abses, dan pergeseran gigi atau instrumen. Satu kasus mendeskripsikan kematian asfiksial akibat hematoma pasca-pencabutan, perdarahan hebat, abses otak, abses epidural, benign paroxysmal positional vertigo, emfisema ruang jaringan dan subkutan, empiema subdural, dan sindrome herpes zoster. Kesimpulan: Untuk melakukan perawatan pasien dengan baik, kita harus mengetahui berbagai komplikasi yang mungkin terjadi. Komplikasi yang langka harus diketahui sejak dini sehingga terapi yang adekuat dapat segera dilakukan.
Kata kunci: efek samping, komplikasi, ekstraksi, langka, pencabutan, molar tiga, tidak biasa/unusual, wisdom tooth/gigi bungsu.
Sumber: Quintessense Int 2009; 40: 565-572.


Pembedahan gigi molar tiga merupakan salah satu prosedur yang umum dilakukan dalam praktek bedah mulut dan maksilofasial. Namun, pencabutan gigi molar tiga membutuhkan perencanaan yang akurat dan ketrampilan bedah. Dari prosedur pembedahan secara umum, kita mengetahui bahwa komplikasi mungkin saja terjadi. Dalam literatur, diungkapkan frekuensi komplikasi setelah pencabutan gigi molar tiga berkisar antara 2,6 sampai 30,9%. Spektrum komplikasi berkisar antara efek samping yang tak-berbahaya [nyeri dan pembengkakan] sampai kerusakan saraf, fraktur mandibula, dan infeksi yang membahayakan. Biasanya, komplikasi minor didefinisikan sebagai komplikasi yang dapat pulih tanpa perawatan. Komplikasi utama didefinisikan sebagai komplikasi yang membutuhkan perawatan lebih lanjut dan menimbulkan akibat-akibat ireversibel.
Meskipun impaksi gigi molar tiga tidak menimbulkan gejala, namun dapat menjadi penyebab satu atau beberapa gangguan. Komplikasi minor pra-operatif antara lain, nyeri, perikoronitis, penyakit periodontal pada gigi molar dua, resorpsi mahkota atau akar gigi molar dua, karies pada gigi molar tiga atau dua, gejala gangguan sendi temporomandibula, dan pembengkakan pra-operatif. Komplikasi utama dalam kasus ini adalah pembentukan abses, fraktur spontan pada mandibula, dan kista atau tumor odontogenik. Gangguan pra-operatif yang sering ditemukan adalah perikoronitis. Banyak penelitian terbaru yang mencoba mengidentifikasi faktor resiko komplikasi intra dan/atau post-operatif. Komplikasi intra dan post-operatif serta efek samping yang umum terjadi akibat pencabutan gigi molar tiga diringkas dalam Tabel 1. Dokter gigi umum, dan dokter bedah mulut dan maksilofasial, harus mengetahui semua komplikasi yang mungkin terjadi. Di sisi lain, edukasi dan pemberitahuan kepada pasien juga bermanfaat; komplikasi yang jarang terjadi juga harus diketahui sejak dini untuk memperoleh terapi yang adekuat.
Dalam penelitian ini, suatu komplikasi dinyatakan langka atau jarang terjadi jika insidennya terhitung kurang dari 1%. Tujuan penulisan tinjauan sistematis ini adalah untuk mengingatkan para praktisi tentang komplikasi-komplikasi langka yang disebabkan oleh pembedahan gigi molar tiga.

BAHAN DAN METODE
Penelitian-penelitian ditelusuri menggunakan pencarian sistematis database elektronik dalam Medline dan Cochrane Library antara tahun 1990 sampai 2008. Selain itu, dilakukan pencarian manual kata kunci, referensi, dan artikel yang berhubungan dengan bidang ini. Kata kunci yang digunakan antara lain third molar, wisdom tooth, complications, unusual, dan rare.
Data diikutsertakan jika memenuhi kriteria berikut ini:
1.Penelitian membahas tentang komplikasi intra- atau post-operatif dalam pencabutan gigi molar tiga
2.Tanggal publikasi berkisar antara tahun 1990 sampai 2008.
3.Artikel dipublikasikan dalam bahasa Inggris atau Jerman.
Untuk mengumpulkan semua penelitian yang relevan, dilakukan pemeriksaan-ulang referensi dari penelitian-penelitian yang ditemukan.

HASIL

Ditemukan banyak penelitian yang menyelidiki tentang perlukaan saraf lingual dan alveolaris inferior permanen serta fraktur mandibula selama dan setelah pencabutan gigi molar tiga rahang bawah. Dua puluh tiga artikel mendeskripsikan komplikasi berbeda dengan yang disebutkan di atas, insiden yang langka namun telah dikenal dengan baik. Yang termasuk dalam komplikasi tersebut adalah proses inflamasi, pembentukan abses yang langka, dan pergeseran gigi-geligi. Uraiannya ditampilkan dalam Tabel 2. Semuanya digolongkan sebagai komplikasi mayor.
Satu laporan kasus mendeskripsikan insiden-insiden ekstrim: kematian asfiksial akibat hematoma pasca-pencabutan, perdarahan parah, benign paroxysmal positional vertigo, empiema subdural, dan sindrom herpes zoster. Laporan kasus tersebut diuraikan dalam Tabel 3.
Usia rata-rata pasien dalam ke-24 kasus tersebut adalah 28 [SD 12,8] tahun. Dalam sebagian besar kasus, komplikasi terjadi setelah pencabutan gigi molar tiga rahang bawah. Dalam hampir semua kasus, dibutuhkan pembedahan kedua. Untuk mencari penyebab komplikasi dalam semua kasus, diperlukan computed tomography [CT] atau magnetic resonance imaging [MRI]. Dalam sebagian besar kasus, prosedur pembedahan pertama dinyatakan rumit, dan perawatannya dianggap ekstensif atau lama.

PEMBAHASAN
Kerusakan saraf permanen

Kerusakan saraf alveolaris inferior atau lingual permanen sangat jarang terjadi namun merupakan salah satu resiko yang umum diketahui dalam pembedahan gigi molar tiga. Perlukaan saraf alveolaris inferior atau lingual selama pencabutan gigi molar tiga rahang bawah merupakan penyebab utama tuntutan hukum dalam kedokteran gigi. Kedekatan anatomis saraf-saraf tersebut dengan gigi molar tiga membuatnya beresiko mengalami kerusakan. Insiden komplikasi langka ini bervariasi dalam setiap penelitian dan sulit untuk ditentukan dengan pasti karena populasi penelitian kecil. Insiden lesi saraf alveolaris inferior permanen berkisar antara 0% smapai 0,9%. Jumlah komplikasi untuk perlukaan saraf lingual sementara adalah 0,4% dan lebih rendah untuk perlukaan saraf lingual permanen.

Fraktur mandibula
Fraktur mandibula immediate atau late jarang terjadi namun tergolong sebagai komplikasi utama. Komplikasi tersebut terjadi jika tulang tidak cukup kuat untuk menahan tekanan yang digunakan. Berkurangnya kekuatan tulang dapat disebabkan oleh atrofi fisiologis, osteoporosis, atau proses patologis, dapat juga terjadi akibat pembedahan. Tidak ada data valid tentang insiden, dan faktor resikonya belum dipahami dengan jelas. Libersa dkk, menemukan insiden sebesar 0,0049%. Dalam penelitian Arrigoni dan Lambrecht yang menganalisis 3,980 pencabutan gigi molar tiga, ditemukan angka komplikasi sebesar 0,29%. Insiden tertinggi terjadi pada pasien berusia 25 tahun, dengan usia rata-rata 40 tahun. Karena memiliki tekanan mastikasi yang lebih besar, pria cenderung mengalami late fracture. Fraktur intraoperatif terjadi akibat instrumentasi yang tidak tepat dan tekanan yang berlebihan pada tulang. Sebagian besar late fracture terjadi selama proses pengunyahan, 13 sampai 21 hari setelah pembedahan. Selama periode tersebut, jaringan granulasi tergantikan oleh jaringan ikat dalam soket alveolar.

Proses inflamasi dan pembentukan abses yang langka
Dalam laporan kasus, dibahas tentang perluasan proses inflamasi sampai ke regio atipikal otak dan regio servikal. Dalam 1 kasus, ditemukan abses superiosteal orbit pada seorang pria berusia 57 tahun setelah pencabutan gigi molar tiga kiri rahang atas yang baik; hal ini disebabkan oleh penyebaran infeksi melalui regio pterigopalatina dan infratemporal ke siffura orbit inferior. Artikel lain menyajikan kasus empiema subdural dan sindrom herpes zoster [Hunt syndrome]. Dalam kasus tersebut, seorang pria berusia 24 tahun menjalani pencabutan keempat gigi molar tiganya. Abses terbentuk dalam ruang pterigomandibular dan submasseter, dan menyebar ke fossa infratemporal. Meskipun dilakukan terapi antibiotik dan drainase, pasien mengalami sakit kepala frontal parah dan muntah, serta memiliki skor Glasgow coma 13. MRI menunjukkan penyumbatan subdural dalam regio temporoparietal. Pasien menjalani kraniotomi darurat dan drainase subdural.
Burgess melaporkan suatu kasus abses epidural pada seorang wanita berusia 20 tahun setelah pencabutan gigi molar tiga. Pada awalnya, pasien didiagnosa mengalami keseleo leher muskuloskeletal akibat postur selama pembedahan. Tiga hari kemudian, pasien mengalami nyeri leher parah pada sisi kanan dan mati rasa pada lengan kanan. Sembilan hari setelah pembedahan, dalam MRI terlihat abses epidural pada sisi kanan vertebra C4/C5. Dalam kasus lainnya, terbentuk abses otak setelah pencabutan gigi molar tiga pada seorang pria berusia 26 tahun. Pasien membutuhkan bedah-saraf segera dan perawatan antibiotik selama 8 minggu.

Pergeseran gigi molar tiga dan instrumen
Pergeseran gigi molar tiga yang impaksi, atau fragmen gigi, mahkota atau seluruh gigi secara tidak sengaja, jarang terjadi selama pencabutan, namun hal ini merupakan komplikasi yang telah diketahui dan sering disebutkan. Informasi tentang insiden dan penatalaksanaan komplikasi ini masih kurang. Biasanya terjadi jika gigi terletak lebih ke lingual, plat kortikal lingual terfenestrasi, dan jika teknik pembedahannya kurang adekuat. Jika sebuah fragmen akar “hilang” saat pencabutan, sebaiknya tidak dilakukan usaha untuk mengeluarkannya. Segera rujuk ke dokter spesialis.
Kemungkinan lain pergeseran gigi molar tiga rahang atas adalah luksasi ke dalam fossa infratemporal. Laporan lain mendeskripsikan pergeseran gigi molar tiga ke dalam ruang submandibular, sublingual, pterigomandibular, faringeal lateral, atau daerah servikal lateral. Dalam 1 kasus, gejala dimulai setelah 2 bulan. Pasien mengalami pembengkakan ifnlamasi rekuren pada ruang submaksila kanan. Selama 14 bulan, klinisi yang sama memberikan antibiotik. Setelah dilakukan prosedur pencitraan dan pembedahan ekstensif, gigi ditemukan di balik otot platysma.
Satu laporan menemukan benda asing. Seorang wanita berusia 35 tahun mengalami trismus, pembengkakan, dan nyeri parah, 3 minggu setelah pencabutan gigi molar tiga rahang bawah. Ditemukan bur intan 20 mm dalam ruang submandibula.

Komplikasi langka lainnya
Gangguan jalan napas dideskripsikan oleh Moghadam dan Caminiti. Seorang pria berusia 32 tahun mengalami pembengkakan palatum lunak akibat perdarahan post-ekstraksi setelah pencabutan gigi molar tiga kanan rahang atas dan kedua gigi molar tiga rahang bawah di tempat praktek klinisi pada hari yang sama. CT menunjukkan adanya hematoma dalam ruang submandibula dan faringeal lateral yang mengakibatkan deviasi orofaring dan konstriksi jalan napas di sekitar orofaring. Pasien harus diintubasi selama 2 hari serta diberi antibiotik dan steroid dosis tinggi.
Terdapat 1 laporan kematian akibat asfiksiasi yang disebabkan oleh hematoma post-ekstraksi pada seorang wanita berusia 71 tahun. Gangguan pernapasan terjadi 12 jam setelah perawatan. Hematoma terjadi dalam ruang submandibula, lingual dan bukal yang mengakibatkan penyempitan orofaring.
Algoritma penatalaksanaan perdarahan intraoral akut seharusnya dapat mengingatkan klinisi bahwa perdarahan intra ataupun post-operatif merupakan salah satu komplikasi dimana seorang klinisi harus mulai melakukan penatalaksanaannya. Keterlibatan jalan napas sampai ke paru-paru dideskripsikan dalam beberapa kasus, satu kasus pneumothorax bilateral setelah pencabutan gigi molar tiga kiri rahang bawah pada seorang pria berusia 45 tahun. Dan, terdapat 3 kasus empisema. Dalam 2 kasus tersebut, digunakan handpiece dental turbin-udara. Satu kasus mendeskripsikan benign positional paroxysmal vertigo setelah pencabutan semua gigi molar tiga. Mengenali empisema mediastinal setelah pencabutan sulit dilakukan karena tidak ada gejala dan tanda-tanda klinis yang absolut.

Usia
Meskipun pembedahan gigi molar tiga umum dilakukan, prosedur tersebut tidak selalu lancar. Meskipun gigi molar tiga dianjurkan untuk dicabut pada usia remaja dan dewasa muda, sebagian besar laporan kasus mendeskripsikan komplikasi parah terjadi jika pencabutan dilakukan pada usia lanjut. Kecenderungan usia tersebut seringkali dideskripsikan sebagai salah satu faktor resiko komplikasi pasca-pencabutan. Faktor-faktor yang menyebabkan fenomena tersebut antara lain peningkatan densitas tulang, kesulitan pembedahan yang tinggi, pembentukan akar telah sempurna, dan berkurangnya kemampuan penyembuhan luka. Oleh karena itu, klinisi harus sangat berhati-hati menangani pasien lanjut usia.

KESIMPULAN
Pencabutan gigi molar tiga rahang bawah memiliki angka komplikasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan rahang atas. Pasien lanjut usia beresiko tinggi. Untuk menegakkan diagnosis dan memulai perawatan lebih lanjut, dibutuhkan pencitraan radiologis berupa CT atau MRI. Harus disadari adanya berbagai kemungkinan komplikasi parah dan diperlukan penatalaksanaan segera untuk mengoptimalkan perawatan pasien.

Read more...

13 February 2009

Malnutrisi post-op bedah protesis maksilofasial

Prognosis nutrisi pasien pasca pembedahan, khususnya bedah maksilofasial, biasanya tergantung pada kondisi kejiwaan pasien tersebut. Bagi sebagian besar orang, pembedahan membawa dampak yang kurang menguntungkan bagi kejiwaan seseorang, biasanya pasien merasa tertekan atau bahkan depresi setelah menjalani pembedahan maksilofasial, ia cenderung mengkhawatirkan kondisi estetik wajahnya dan menduga-duga apakah tampilan wajahnya akan kembali seperti semula. Perlu diketahui bahwa kondisi kejiwaan seorang pasien juga mempengaruhi asupan nutrisinya dan pada akhirnya akan memperburuk prognosis pembedahan tersebut.

Asupan nutrisi pasien pra- ataupun post-pembedahan harus diperhatikan. Sebelum pembedahan dilakukan, sebaiknya dilakukan pemeriksaan antropometrik dan laboratorium untuk meyakinkan prognosis pasien setelah operasi. Pada pasien keganasan maksilofasial, ia cenderung mengalami penurunan berat badan yang signifikan, jika dalam 6 bulan terakhir ia mengalami penurunan berat badan lebih dari 20%, maka pasien akan mengalami malnutrisi energi protein. De Wys menemukan akibat malnutrisi yang signifikan terhadap prognosis dan menyatakan bahwa para pasien yang mengalami penurunan berat badan substansial memiliki rata-rata masa kesembuhan yang lebih pendek dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami penurunan berat badan signifikan.

Untuk fase post-op, penggunaan alat bantu rongga mulut (oral feeding) akan terganggu akibat reseksi, kemoterapi ataupun radioterapi. Jadi perlu dipertimbangkan alternatif lainnya. Manifestasi malnutrisi dalam rongga mulut dapat berupa penurunan nafsu makan akibat xerostomia, depresi atau kemarahan, sore mouth akibat xerostomia atau mukositis, dan diare. Xerostomia itu sendiri disebabkan oleh terapi radiasi yang merusak kelenjar saliva sehingga produksi saliva dan kelembaban rongga mulut berkurang.

Itu tadi ringkasan dari jurnal prostodontik berjudul Nutrition in Prosthetic Maxillofacial Patients:: Unexplored Borders.

Dental Minded, Indonesia !

Read more...

Berhitung!

Pasang Aku Yaa

go green indonesia!
Solidaritas untuk anak Indonesia

  © Blogger templates Newspaper III by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP